21 Desember 2007

Pertama Bikin Politik Lokal Jakarta

MASUKNYA Jawa Pos dengan nama Indo.Pos di Jakarta mewarnai persaingan media massa di ibu kota. Jakarta adalah pasar media cetak yang terbesar di Indonesia. Menguasai Jakarta sama dengan mengusai pasar media cetak seluruh Sulawesi dan Papua. Dengan oplah 100 ribu eksamplar pers sudah bisa bertahan hidup di Jakarta.
Indo.Pos muncul secara tak diduga. Ini membuat yang lain kaget. Kompas, Media Indonesia, Republika, dan lainya langsung sigap. Sementara Grup MNC menyiapkan satu koran yang nantinya bernama Seputar Indonesia. Alhasil tahun pertama Indo.Pos menjadi pusat perhatian, lalu di tahun kedua Indo.Pos muncul saingan baru namanya Seputar Indonesia. Parahnya bukan hanya saingan tapi juga membuat banyak personil Indo.Pos dan Jawa Pos hengkang.
Luar biasa cara Sindo menggaet SDM Jawa Pos dan Indo.Pos. Maklum, pemimpin redaksi Sindo adalah tempaan Jawa Pos. Ilmu Jawa Pos ditularkanlah ke Sindo. Sebenarnya dia tak perlu kerja berat karena mayoritas SDM mereka adalah berasal dari Jawa Pos/Indo.Pos. Di tengah itu Kompas juga sudah bersiap dengan format barunya. Kalau Indo.Pos ukuran kertasnya brooksheet muda dengan 7 kolom standar, Kompas hadir dengan 8 kolom.
Media Indonesia juga sedikit berubah. Lebih ramping, namun ada penambahan rubrik-rubrik baru. Yang paling drastis berubah adalah Kompas. Selain format ukuran kertasnya, juga terjadi perubahan desain. Lebih hidup dan bertambah elegan. Tapi Indo.Pos/Jawa Pos cukup boleh dikata menang karena Jawa Pos lah yang memelopori koran dengan format ramping. Kompas sendiri dalam ulasannya tak merasa mengikuti Jawa Pos.



MENJULANG: Gedung Graha Pena Jawa Pos Jakarta. Di lantai 10 inilah Indo.Pos berkantor.

Indo.Pos lebih unggul lagi karena inilah koran satu-satunya yang seluruh halamannya berwarna. Itu berlangsung sampai saat ini. Untuk menyesuaikan, iklan hitam putih pun dibuat berwarna, meski tak semua pemasang iklan mau. Konsekuensi dari semua itu membuat biaya produksi naik. Ongkos cetak menjadi bertambah. Tak peduli karena persaingan di Jakarta memang cukup keras.
Tahun 2003 akhir, partai-partai politik bersiap menyambut Pemilu 2004. Semua media massa juga bersiap memanfaatkan momen pesta demokrasi itu. Pengalaman selama ini, pemilu selalu membuat oplah media cetak naik 10 sampai 20 persen. Indo.Pos ingin pula mengangkat oplah dari pesta politik lima tahunan itu.
Terobosan baru dibuat, Indo.Pos menyiapkan satu halaman khusus untuk liputan-liputan politik lokal Jakarta. Inilah koran nasional yang pertama kali membuat halaman politik Jakarta. Pos Kota, Berita Kota, Warta Kota yang nota bene korannya Jakarta justru tidak menyiapkan rubrik khusus poltik Jakarta. Rakyat Merdeka yang katanya koran politik, juga belum memiliki halaman politik Jakarta saat itu.
Ketika halaman politik Jakarta itu dilaunching, saya masih memegang halaman Jakarta Raya semacam Metropolis-nya Jawa Pos. Lalu membantu olahraga khusus halaman basket. Tak lama, halaman politik lokal itu saya gawangi. Awalnya memang kerepotan karena praktis berita-berita politik Jakarta belum begitu intensif. Kegiatan parpol baru pada tahap membenahi internalnya. Akhir 2003 parpol mulai sosialisasi. Berita-berita politik mulai mengalir. Parpol-parpol se-Jakarta pelan-pelan menjadikan IndoPos sebagai bacaan wajibnya.
Pembentukan KPUD, Panwasda dan infrastruktur pemilu membuat koran ini unggul dari segi berita politik lokalnya. Persaingan makin terbuka karena media lain pun ingin memanfaatkan pemilu sebagai momentum meningkatkan oplah. Tapi akhirnya yang lebih dulu start-lah yang unggul. Sampai selesai pemilu (legislatif dan presiden) Indo.Pos makin mendapat tempat di Jakarta. Halaman politik lokal belakangan diikuti koran-koran lain meski pemilu sudah berakhir.

22 November 2007

Tahun-Tahun Pertama di Indo.Pos

INDO.POS didirikan agar Jawa Pos bisa merambah pasar Jakarta. Selama ini Jawa Pos yang home-nya di Surabaya sulit bersaing di Jakarta. Pelanggannya hanya berkisar 5.000 eksamplar. Itu pun segmennya orang-orang Jawa Timur yang ada di Ibu kota. Cetak jarak jauh di Jakarta juga tidak membantu. Boleh dikata brand Jawa Pos tidak cukup kuat untuk Jakarta. Sangat kontras dengan yang di Jawa Timur -apalagi di Surabaya-, dan daerah lain di Indonesia.
Di Jakarta image Jawa Pos adalah koran milik orang Jawa, Jawa Timur-an. Padahal Jakarta merupakan miniatur Indonesia yang di dalamnya multietnis. Komposisnya Jawa, Sunda, Padang, Batak, Bugis Makassar, Ambon, Tionghoa, Manado, dan lain-lain. Itu di luar komunitas Betawi. Isi Jawa Pos tidak mencerminkan komposisi itu. Asas kedekatan dengan karakter Jakarta seperti terabaikan.
Akhirnya Pak Dahlan Iskan bikin gebrakan. Jawa Pos tidak perlu boyongan ke Jakarta. Cukup bikin edisi Jakarta. Sama dengan Majalah TIMES, untuk edisi Asia Pasific mereka buka kantor otonom di Singapura. Begitu juga untuk kawasan lain didirikan satu kantor independen di salah satu negara di kawasan itu. Nah, Indo.Pos adalah Jawa Pos edisi Jakarta. Begitu ide awalnya, hingga Indo.Pos mau tidak mau harus bertarung di Jakarta.
Setelah Indo.Pos terbit, Jawa Pos secara otomatis tidak beradar lagi di Jakarta. Ia digantikan Indo.Pos. Kalau mau cari Jawa Pos di Jakarta, kemana pun tidak dapat. Sebaliknya, jangan harap menemukan Indo.Pos di luar Jabotabek dan Banten, karena memang peredarannya terbatas hanya di kawasan ini.


BERSIH: Kantor Redaksi Indo.Pos dalam suasana yang masih lengang. Yang terlihat hanya dua orang layouter dan seorang redaktur. Gambar diambil tengah hari.

Indo.Pos terbit pertama pada 25 Februari 2003. Seminggu sebelumnya, pasukan dari berbagai anak perusahaan sudah mengadakan simulasi dipimpin Pak Dahlan. Mereka yang bergabung adalah para redaktur dan reporter terbaik dari koran anak perusahaan. Masing-masing dua orang dari tiap anak perusahaan. Istilahnya, semacam BKO seperti dalam istilah militer. Memang tepat, daripada merekrut orang baru, mengapa tidak memanfaatkan SDM anak perusahaan Jawa Pos sendiri yang jumlahnya ribuan orang itu.
Saya sendiri tidak tercatat sebagai BKO, tapi dianggap sebagai pindahan. Kendari Ekspres belum masuk hitungan untuk dimintai BKO-nya. Kendari Pos pun tidak. Dari kawasan timur hanya Harian Fajar yang diminta mengirim 2 orangnya. Yaitu Jusuf AR (redaktur) dan Muchlis Amans Hady (reporter). Dari Riau Pos ada Saidul Tombang, dari Sumatera Ekspres ada Mbak Indri, juga Mbak Upit Ryana Sari dari Palembang Pos. Sri Nanang dan Izzul Mutho dari Jawa Tengah.
Para BKO ini bertugas hanya 6 bulan. Setelah itu bisa memilih tinggal atau balik lagi ke daerah-daerah. Ternyata banyak yang balik. Hampir semua yang saya sebut di atas memilih pulang. Saidul sudah jadi Redpel di Riau Pos, Jusuf AR pulang tapi balik lagi ke Jakarta menangani kepentingan Harian Fajar di Jakarta. Saya harus tinggal, karena memang saya tidak punya pilihan lagi.
Selama 1 tahun Pak Bos tak henti-hentinya memacu kami. Rubrik-rubrik khas muncul dari ide-ide brilian Pak Dahlan Iskan. Ada rubrik Society Jakarta, ada rubrik Antikorupsi, rubrik Seluler, wanita Jakarta, dll yang tidak dimiliki koran lain. Rubrik Society Jakarta akhirnya jadi tren di kalangan anak grup. Semua rame-rame membuat rubrik ini, meski namanya beda-beda.
Awalnya saya dapat tugas menjaga halaman ekonomi bersama Mbak Upit. Dua bulan berikut membantu desk Jakarta Raya. Desk ini dibagi empat. Jakarta 1 sebagai metro, Jakarta 2 pemerintahan, Jakarta 3 sambungan, dan Jakarta 4 kriminal. Belakangan Jakarta 2 menjadi halaman politik lokal.


AWAK REDAKSI: Kru Redaksi Indo.Pos berpose bersama saat bikin acara di Puncak. Sebagian dari tim ini sudah ada yang pindah ke media lain.

Di tahun-tahun pertama itu sangat menyenangkan. Kekompakan benar-benar terjaga. Apalagi ada 3 senior ikut dalam tim, yakni Mas Slamet Oerip Prihadi, Berto Ryadi, dan Djono W. Oesman. Saya termasuk senior meski saya tidak sesenior ketiganya. Mas Slamet dan Pak Berto pegang halaman olahraga, sedangkan Mas Djono W Oesman menangani Jakarta kriminal.
Tahun pertama itu pula ada kasus heboh. Yakni mewabahnya penyakit SARS. Penyakit Sindrom Pernapasan Akut Berat (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) ini adalah sebuah jenis penyakit pneumonia. Penyakit ini ditemukan pertama kali di Guangdong, Tiongkok, pada November 2002, lalu dengan cepat merambat ke Asia Tenggara. Jakarta baru terjangkit pada April 2003. Reporter banyak yang hati-hati meliput, takut terjangkit. Muchlis Amans Hadi yang ditugaskan bisa mendekat ke pasien. Namun pulang-pulang dia sudah demam tinggi. Tidak tahan dia memilih balik ke Harian Fajar Makassar.

10 November 2007

Hengkang ke Jakarta

TAK banyak yang tahu mengapa saya harus meninggalkan Kendari ke Jakarta. Meninggalkan Kendari Ekspres yang sedang butuh-butuhnya figur seperti saya. Memang, saya telah bulat melangkah, menjauhi problem yang luar biasa berat yang menimpa saya.
Saya tidak bisa memendam apa yang terjadi, meski yang saya hadapi adalah masalah pribadi dan problem keluarga. Masalah pribadi yang lahir akibat perbuatan saya juga. Sayangnya, saya lari untuk menghidar dari problem berat, tapi justru meninggalkan tanggung jawab. Yang lain menilai betapa gobloknya saya, meninggalkan jabatan puncak di Kendari Ekspres.
Saya benar-benar dicap gila, apalagi karena saya ke Jakarta berdua dengan seseorang yang baru satu setengah tahun memasuki kehidupan saya. Siapa dia akan saya ceritakan tersendiri dalam posting tersendiri pula. Yang pasti saya hengkang ke Jakarta dengan tujuan untuk menghindari masalah, meskipun sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.
Buktinya, di Jakarta, tiga bulan pertama saya menderita luar biasa. Saya kesana kemari dengan kondisi memprihatinkan. Bekal habis, saya berpindah dari satu tempat kos ke tempat kos yang lain secara menyedihkan. Sangat kontras dengan kehidupan saya di Kendari. Perihnya, gaji saya diputus, posisi saya sebagai direktur lalu kemudian komisaris juga diputus. Saya jadi pengangguran.
Sepertinya saya sudah di jurang kehancuran. Di tengah perenungan, saya ibarat tersentak. Seolah ada yang mengingatkan. Hee.. Sadarlah. Kamu sudah menderita, anak dan istrimu pun akan ikut menderita kelak. Memang, hidup saya terpuruk, saya seperti tidak punya kehidupan lagi. Mau balik, saya malu sendiri karena pasti mendapat cemohan keras.


JAKARTA DI WAKTU MALAM: Monas, Masjid Istiqlal, dan gedung-gedung menjulang adalah simbol Kota Jakarta. Saya nyaris tertelan oleh ganasnya ibu kota ini.

Tiga bulan saya terkatung-katung di Jakarta. Pilihan saya hengkang ke Jakarta benar-benar tidak diberkahi. Saya putus asa, sampai akhirnya saya kembali diselamatkan Pak Alwi Hamu. Itupun baru setelah wanita itu saya pulangkan. Tak lama setelah pulang, dia kawin dengan seorang pejabat di PU Sultra.
Alwi Hamu menasehati saya habis-habisan. Saya dianggap salah dan tidak punya tanggung jawab. Kepercayaan yang dia berikan saya sia-siakan. Akibatnya, Kendari Ekspres terbengkalai, para karyawannya yang selama ini jadi tulang punggung satu persatu keluar dan pindah केmedia lain. Indarwati pindah Majalah Pantau di Jakarta, Nasir pindah ke ANTV, Yos ke Trans TV, Astian membuka lahan ecalyptus, dan La Ode Andi Muna jadi PNS.
Tapi itulah mulianya Alwi Hamu. Sudah salah total, saya masih diampuni dan diberi kesempatan lagi. Atas rekomendasi dia, saya kembali masuk grup, masuk ke harian Indo Pos yang saat itu pas mau terbit perdana. Indo Pos terbit perdana pada 25 Februari 2003, sementara saya menghadap Pak Dahlan Iskan sehari sebelumnya.
Pemilik Jawa Pos Grup itu pun mau menampung saya di Indo Pos. Dialah yang benar-benar menyelamatkan saya dari keterpurukan. Pak Dahlan malah bertanya, bagaimana saya bisa hidup di Jakarta tanpa pekerjaan. Begitulah, episode getir saya terhenti di tangan Pak Dahlan.


REDAKSI: Tahun pertama saya (duduk) di Indo Pos. Tampak Pemred Irwan Setyawan menjelaskan proses aliran berita sampai naik cetak kepada tamu yang mengunjungi redaksi Indo Pos.

Selanjutnya beberapa jam kemudian Pak Bos, begitu panggilan kami pada Pak Dahlan Iskan, mengajak saya ke percetakan di Bekasi. Di sana kami meeting dengan jajaran percetakan. Mencari model penggabungan halaman agar tidak banyak kesalahan dan mempercepat terbitnya Indo Pos. Semua lancar, dan lewat tengah malam itulah Indo Pos terbit perdana di Jakarta.

14 Oktober 2007

01 Oktober 2007

Ketegangan di Konser Sheila On Seven (2 - Habis)

TUGAS saya dengan baik saya jalankan. Tak perlu lama bagi saya untuk bertemu gubernur. Di pintu masuk ruang kerjanya saya bertemu Ibu Norma. Dari dialah menyambung saya ke Pak Kaimuddin. Suami istri ini langsung paham dan meyakinkan saya. Sheila On Seven boleh pentas. Tapi bagaimana dengan Pak Husein Effendi? tanya saya. "Sudah," jawab Kaimuddin. Saya mengepalkan tangan. Yes!!
Keluar dari ruangan gubernur, saya ingin segera menyampaikan berita baik ini kepada Pak Baso yang sedang serius di ruangan wakil gubernur. Tapi saya tidak boleh masuk. Kata ajudan bapak lagi tegang. Apa yang terjadi di dalam baru saya tahu setelah Pak Baso keluar. "Wagub sudah ihlas," kata Pak Baso begitu keluar ruangan. Husein Effendi dapat perintah dari Kaimuddin untuk mengizinkan konser Sheila On Seven besok.


Husein Effendi dikelilingi kader-kader PPP Sultra.

Di depan Pak Baso Husein Effendi seperti di luar kontrol. Dia sempat memperlihatkan pistol untuk menegaskan kepada Pak Baso bagaimana berangnya dia terhadap orang-orang yang membuat peta konflik dirinya dengan Gubernur Kaimuddin. "Saya mau diadu domba," katanya dengan nada keras. Baso terdiam. Yang nyaris jadi sasaran tembak adalah Dinas Olahraga karena dialah yang mengeluarkan izin pemakaian Stadion Lakidende itu.
"Tapi sudahlah," kata Husein Effendi, "Semua sudah berakhir. Saya harus ikut perintah gubernur." Baso terdiam. Memaklumi apa yang terjadi. Dari sekian pengacara di Kendari, Pak Baso cukup dekat dengan Husein Effendi. Saya tidak tahu ceritanya bagaimana bisa keduanya dekat. Apakah karena Husein Effendi cukup komunikatif dengan menggunakan bahasa leluhurnya Pak Baso, Bugis, atau hubungan profesional saja.
Ya, Husein Effendi adalah orang Tolaki -suku asli Kendari- tapi sangat fasih berbahasa Bugis. Meskipun tak pernah tinggal di Sulawesi Selatan dalam jangka lama, dia mengerti Bahasa Bugis Makassar tersebut. Yang saya tahu Husein Effendi pernah lama bertugas di Surabaya Jawa Timur. Dari situlah masuk ke Sultra menjadi wakil gubernur pada periode kedua Kaimuddin. Husein Effendi menggantikan Kolonel TNI Muhidin yang sukses mendampingi Kaimuddin periode pertama. Brigjen polisi menggantikan Brigjen TNI AD.
Peristiwa 8 tahun lalu itu mungkin sudah hilang dalam ingatan Pak Husein Effendi. Memori saya pun sudah tak mampu merekam secara detil dari jam ke jam kejadian itu. Namun saya masih menaruh hormat kepada Bapak Husein Effendi, baik sebagai pejabat daerah maupun sebagai politisi di Sultra.
Sebagai pejabat daerah, beliau adalah pimpinan DPRD Sultra dan sebagai politisi beliau ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sultra. Sayangnya dia harus rela melepas jabatan ketua PPP ke Yusran Silondae, wakil gubernur sekarang. Dia kalah dalam perebutan kursi ketua PPP Sultra.
Sejak peristiwa itu saya tidak pernah lagi bertemu beliau. Bahkan mungkin dia tidak tahu kalau saya sudah pindah ke Jakarta.

21 September 2007

Ketegangan di Konser Sheila On Seven (1)

SEBENARNYA diam-diam ada persaingan antara Kendari Ekspres dengan Kendari Pos. Maklum, anak-anak Kendari Pos yang terpaksa hengkang ke Kendari Ekspres menyimpan 'dendam'. Tapi dendamnya positif. Mereka bertekat menjadi yang terbaik. Apalagi yang pindah ke Kendari Ekspres dianggap hanyalah SDM kelas 2. Yang kelas 1 tentulah Kendari Pos, apalagi koran ini lebih dulu hadir di Sultra.
Rivalitas memang tak terhindari. Kendari Pos dan Kendari Ekspres selalu saja mau 'perang' satu sama lain. Dalam liputan, dalam pemasaran, bahkan dalam berlomba membuat event. Satu event besar sukses dilaksanakan Kendari Ekspres yang mungkin tidak dapat dilakukan Kendari Pos, yakni mengadakan konser tunggal Grup Band Sheila On Seven. Apalagi, Kendari Ekspres saat itu masih terbit secara mingguan. Menariknya lagi, konser itu terselenggara di tengah adanya pihak-pihak tertentu yang ingin memboikot.
Ya, ada yang ingin menggagalkan konser itu melalui Wakil Gubernur Sultra Husein Effendi (waktu itu). Saya tidak yakin persis apakah ini terkait dengan rivalitas antara Kendari Pos dengan Kendari Ekspres, tapi memang saya selaku orang nomor 1 di Kendari Ekspres menjadi malu jika konser atas kerjasama dengan pengusaha showbiz Rafsel Ali (menantu Alwi Hamu) itu gagal.
Konser Sheila On Seven rencananya digelar di Stadion Lakidende Kendari. Izin dan persyaratan sudah dipenuhi. Artinya tinggal pasang panggung bersistem knock down yang didatangkan dari Surabaya. Stadion Lakidende adalah home base Persatuan Sepakbola Kendari (PSK), sementara stadion itu di bawah pengelolaan Pemda Sultra. Pengelolalanya bertanggungjawab langsung kepada wakil gubernur.


Personel Sheila on Seven meninjau stadiun sebelum tampil dalam salah satu kongsernya di Indonesia.

Husein Effendi, selain wakil gubernur, dia juga adalah Ketua Komda PSSI Sultra. Komda PSSI Sultra adalah induk teratas dari perserikatan sepakbola Kodya Kendari selaku pemilik PSK. Kalau dilihat jabatan Husein Effendi, maka boleh dikata dia menguasai penuh stadion tersebut. Baik dia sebagai wagub, maupun selaku ketua PSSI Sultra. Entah siapa yang ngompori, tiba-tiba dia mencabut izin pemakaian stadion yang sudah saya kantongi untuk pertunjukan Sheila On Seven.
Saya tersentak. Juga tidak habis pikir mengapa Wagub Sultra waktu itu begitu mudah dipengaruhi orang. Segera saya diskusikan dengan pengacara Kendari Ekspres Baso Sumange Rellung SH. Pak Baso termasuk cukup dekat dengan Pak Husein Effendi. Pak Baso mengernyitkan alisnya tanda heran. Dia juga tidak habis pikir mengapa Bapak Husein Effendi begitu. Alasan yang kami terima adalah stadion itu mau dipakai PSK untuk latihan. Begitu mendadak-kah? tanya saya.
Seolah PSK dipaksa berlatih di stadion itu agar konser Sheila On Seven batal. Lagi pula sebelumnya saya tidak melihat PSK giat-giatnya latihan. Saya tahu seperti apa PSK, karena saya adalah sekretaris di perserikatan tersebut bersama Pak Mujahid. Jadi mengapa tiba-tiba PSK mau latihan? Ibu Astian dan Indarwati, project officer konser, terlihat sudah putus asa. Keduanya sudah menemui Ibu Norma, istri Gubernur La Ode Kaimuddin, agar dibantu. Iya, janjinya.
Dua hari sebelum hari H, stadion masih tertutup bagi Kendari Ekspres untuk konser. Wagub kembali memberikan alasan lain. Iya, tidak untuk latihan, tapi PSK di hari yang sama akan uji coba dengan klub lain di Lakidende. Wah, ini mendadak lagi. Di luar stadion, peralatan panggung dan sound sistem tertahan. Tidak boleh masuk untuk dipasang. Kami kelimpungan hingga H-1. Di hari H-1 itu, panggung masih tertahan. Tiga kontainer menunggu diloloskan masuk. Saya dan Pak Baso akhirnya ke kantor Gubernur. Di tangga naik, saya bagi tugas. Saya ke ruang kerja Gubernur, Baso ke ruang kerja Wagub. Tegang campur was was, rasanya.
Benar, kalau gagal sayalah yang paling menanggung malu. Tiket sudah terbagi semua, laris manis. Pembaca Kendari Ekspres pun telah memberikan apresiasi atas penyelenggaraan konser So7 tersebut. Mereka tinggal menunggu hari H-nya. Tapi itu tadi, saya tersandung oleh Wakil Gubernur dan Ketua PSSI Sultra, Bapak Husein Effendi. (bersambung)

12 September 2007

Konfrontasi Melawan Kapolda (4 - Habis)

PIHAK Polda Sultra keluar dari gedung DPRD di tengah kerumunan demo. Dan di saat kami masuk, demo tetap berlangsung menyemangati Kendari Ekspres. Di dalam, Kendari Ekspres didampingi 7 pengacara. Di antaranya Arbab Paproeka SH, Baso Sumange Rellung SH, Abdul Rahman SH, Parulian SH. Kami diterima H Hino Biohanis dan dua wakil ketuanya.
Di luar ruangan puluhan aktivis tak henti berorasi. Pimpinan DPR segera saja membuka hearing. Hino Biohanis menjelaskan hasil hearingnya dengan jajaran Polda Sultra. Intinya, Kapolda menolak tuduhan selalu meminta upeti, menolak disebut arogan, dan, tentu saja, yang bersalah tetap Kendari Ekspres yang mencemarkan nama baiknya. Saya pun tak mau kalah. Kronologis saya kemukakan secara runtut. Mulai dari persidangan, sampai saat hearing ini. Tak lupa saya umbar UU No 40/1999 tentang pers.
Selanjutnya giliran Arbab mengungkapkan kondisi riil dalam kasus Kendari Ekspres versus Kapolda ini. Menurut dia, Kapolda salah alamat jika menuntut Kendari Ekspres. Dia kemudian mencontohkan kasus antara Penasehat Golkar (waktu itu) Baramuli dengan kelompok Barnas (Barisan Nasional) yang digalang dedengkot Petisi 50 Ali Sadikin. Yang tersangkan akhirnya adalah pers.
Baramuli ketika di Palu menyebutkan Barnas itu adalah barisan sakit hati yang tidak layak hidup di Indonesia. Ucapan Baramuli (alm) itu lantas dikutip media massal lokal dan nasional. Di Jakarta kelompok Barnas seperti Ali Sadikin, Kemal Idris dkk tersinggung atas ucapan Baramuli itu. Dia menuntut. Sayangnya yang dituntut bukan Baramulinya, tapi pers. Ini jelas salah alamat. Mengapa tak menuntut Baramuli? Sama halnya kasus Kapolda Sultra v Kendari Ekspres, yang ngomong Kapten Boy tapi marahnya kepada wartawan.
Hearing akhirnya ditutup dengan tambahan pernyataan di sana sini. Tapi itu belum menyelesaikan masalah. DPRD sudah meminta ke Kapolda agar menahan diri, tapi juga belum berhasil. Saya sendiri sudah menyatakan Kendari Ekspres berada dalam posisi defensif. Yang sekali-kali akan ofensif jika menghawatirkan kelangsungan pengelolanya. Yang menuntut adalah Kapolda sehingga semuanya tergantung dia sendiri. Mau lanjut dia yang putuskan, tidak juga dia yang keputuskan.
Yang terjadi kemudian saya terus mendapat dukungan. Dari Jakarta AJI Indonesia pimpinan Didik Supriyanto (mantan anggota Panwaslu pusat) sudah menyiapkan pengacara Johnson Panjaitan SH untuk ikut membela saya. Selain itu, AJI Indonesia pun terus meminta Kapolri agar meninjau keberadaan Kapolda Amir Iskandar Panji di Sultra. Paling tidak mendengar aspirasi elemen masyarakat Sultra yang telah mengirimkan pernyataan sikapnya.
Sementara pemberitaan Kendari Ekspres tak hentinya melakukan kontrol terhadap Polda Sultra. Salah satunya dijadikannya fasilitas lapangan tembak milik Perbakin menjadi cafe. Ketua Perbakin Sultra selalu dijabat ex officio Kapolda sehingga Amir Iskandar Panji punya kuasa mengatur fasilitas lapangan tembak tersebut. Lapangan itu disulap menjadi cafe dan karaoke di malam hari.
Berbulan-bulan Kendari Ekspres musuhan dengan Kapolda. Puasa dan lebaran sudah kami lewatkan, saya tidak pernah diperiksa lagi. Terhitung saya cuma sekali diperiksa dari jam 08 pagi hingga jam setengah enam sore. Itu pada awal-awal kasus ini. Waktu itu saya dongkol banget. Penyidik sangat tergantung dengan Kapoldanya. Setiap satu pertanyaan selesai, dia masuk lagi ke ruangan kapolda. Dia minta pertanyaan dari Kapolda untuk saya.
Perasaan saya tak bagus. Langsung saja saya bilang ke penyidik lebih baik Kapolda saja yang periksa saya. Biar cepat selesai. Saya dongkol karena prosesnya lama, apalagi bulan puasa. Saya berharap biar korbannya saja yang berhadapan dengan saya secara langsung. Anggaplah dia penyidik, dan saya siap menjawab semua interogasinya. Tapi penyidik itu mengatakan, "Kami hanya diperintah, hanya menjalankan tugas saja."
Memasuki bulan Mei, berita mencengangkan mucul. Kapolda Sultra Kolonel Polisi Amir Iskandar Panji diganti. Penggantinya adalah wakilnya sendiri. Saya bersorak. Mungkin ini hasil dari desakan teman-teman yang minta Kapolda dicopot. Berita tersebut langsung disambut hangat semua pendukung Kendari Ekspres. Saya sendiri bikin acara kecil-kecilan. Sebab, suasana itu pas bertepatan hari ulang tahun saya, 5 Mei.

28 Agustus 2007

Konfrontasi Melawan Kapolda (3)

TAK sedikit reaksi yang mucul atas sikap Kapolda tersebut. Komunitas pers terutama. Sebagai ketua AJI yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, saya tetap pada keyakinan tidak bersalah. Maka untuk melawan, saya harus menggalang kekuatan pers untuk mempertanyakan sikap Kapolda Amir Iskandar Panji. Sebab sikapnya sangat bertolak belakang dengan kebebasan pers.
Melalui pertemuan PWI, AJI, PWI Reformasi, dan organisasi pers lainnya, disepakati membuat sebuah pernyataan sikap mengecam Kapolda Sultra yang anti kebebasan pers. Salah satu inti pernyataan PWI, AJI, dan PWI Reformasi tersebut adalah meninjau keberadaan Kapolda Amir Iskandar Panji di Sultra. Khusus Kendari Ekspres telah menyatakan berkonfrontasi.
Perlawanan terhadap Kapolda dikembangkan dengan menggalang kekuatan dari elemen masyarakat lain. Pertama-tama saya mendatangi aktivis mahasiswa Sultra. Presiden mahasiswa Unhalu dan jajarannya menyokong langkah saya. Mereka pun memakai isu arogansi untuk pencopotan Kapolda Sultra. Hidayatullah, aktivis mahasiswa Unhalu, bergerilya selama sepekan mengambil tandatangan semua senat mahasiswa dan BPM Unhalu. Pernyataannya adalah minta Kapolri mencopot Kapolda Sultra. Hidayatullah kini menjadi tokoh pergerakan di Sultra dengan lembaga Majelis Amanat Rakyat (Mara) Sultra.
Selain menggalang komunitas pers dan mahasiswa, saya juga bergerilya di kalangan ormas kepemudaan dan LSM. Dalam pertemuan dengan mereka di kantor milik Arsyad Abdullah, saya mendapat dukungan penuh para LSM dan ormas pemuda tersebut. Ketua KNPI Sultra Dra Endang Abbas Buraera tak ketinggalan membubuhkan tandatangannya untuk sebuah pernyataan sikap ke Kapolri. Intinya sama, minta Kapolda Amir Iskandar Panji dicopot.




Dukungan dari komunitas pers dan elemen pemuda sudah saya genggam। Berikutnya, saya mendekat ke legislatif. Saya lantas menyurat ke pimpinan DPRD untuk dilakukan hearing terkait kasus tersebut. Surat saya ditanggapi secara baik. Tiga hari kemudian kami hearing dengan pimpinan DPRD Sultra. Saya hadir bersama empat wartawan Kendari Ekspres, seorang redaktur, dan seorang dari pengacara kami.
Dialog dengan wakil ketua DPRD Sultra H Andrey Jufri SH berlangsung santai tapi serius. Kami membeberkan kronologis sampai Kapolda Sultra menempuh jalur hukum. Dewan paham, namun tidak dapat berbuat banyak karena hanya pertemuan satu pihak. DPRD hanya berjanji untuk menengahi. Akan ada pertemuan berikutnya untuk mempertemukan pihak Kendari Ekspres dengan pihak Kapolda.
Benar, seminggu kemudian Kendari Ekspres menerima undangan hearing dengan peserta kedua belah pihak. Saya senang karena inilah saatnya ada institusi yang bersedia menengahi konflik panjang ini. Sorenya, saya ditelepon Ketua DPRD H Hino Biohanis bahwa pertemuan akan berlangsung bersamaan dengan pihak Kapolda Sultra. Namun pagi sebelum kami ke DPRD, Pak Hino menelepon lagi menyampaikan hearing dibagi dua sesi. Pihak Kapolda di sesi pertama, baru kemudian hearing dengan Kendari Ekspres.
Saya kaget. Apa bedanya dengan hearing sebelumnya yang hanya sepihak. Mengapa pihak Polda tak mau hearing dengan Kendari Ekspres, padahal DPRD telah siap menengahi. Ini memancing kemarahan elemen mahasiswa dan LSM. Buktinya, saat sesi pertama digelar, 50-an mahasiswa dan 30-an aktivis LSM berorasi minta agar DPRD mengusulkan pencopotan Kapolda Sultra. Mereka membawa spanduk, poster dan pamflet. Intinya satu: Kapolda Sultra arogan dan harus segera dicopot.
Kapolda hearing dengan membawa jajarannya. Ada wakapolda, ada Kapolres, Kabid Humas Polda, Kadit Serse Polda, dan beberapa penyidik dalam kasus pencemaran nama baiknya. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Kami hanya bisa menunggu giliran hearing. (bersambung)

20 Agustus 2007

Konfrontasi Melawan Kapolda (2)

PERTEMUAN dengan Kapolda saya pikir semua sudah bisa cooling down. Apalagi waktu itu bulan puasa. Ternyata tidak. Kapolda terus mengumbar amarah. Tengah malam, di saat saya tengah bersiap tidur, telepon berdering. Yang angkat istri saya. Telepon di tengah malam itu mencari saya. Tidak diberitahu dari mana, tapi mencari Syahrir Lantoni.
Maaf dari mana? tanya saya. "Ini Kolonel Polisi Amir Iskandar Panji, Kapolda Sulawesi Tenggara!" jawabnya dengan nada tinggi. Saya tersentak, ada apa lagi? Dia minta agar kaset berisi rekaman pernyataan Kapten Boy di PN Kendari diserahkan kepadanya. Saya tolak dengan berbagai pertimbangan. Pertama, itulah alat bukti saya untuk membela diri jika di kemudian hari harus berhadapan hukum dengan Kapolda. Kedua, tidak ada kewajiban saya atau pers menyerahkan peralatan tugas pers kepada siapa pun. Sebab kaset rekaman bukanlah barang bukti, tapi alat bukti Kendari Ekspres untuk membuktikan bahwa liputannya tidaklah bohong.
Sayangnya Kapolda tidak terima. Akhirnya dia mengancam, jika tidak menyerahkan kaset itu maka saya harus bertanggungjawab dan menanggung segala konsekuensinya. Ancaman itu serius karena disampaikan dengan nada tinggi sembari menutup telepon dengan kasar. Saya tertegun, tidak mengerti apa yang bakal terjadi. Penolakan saya menjadi tanda saya telah memulai konfrontasi dengan orang nomor satu di kepolisian di daerah ini.
Besoknya, saya langsung cek semua wartawan Kendari Ekspres. Bagaimana situasi dan kondisi di lapangan, sekaligus menanyakan perkembangan kasus Kapolda ini. Selain itu, saya pun menghubungi dua pengacara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari menceritakan permasalahan yang saya hadapi. Arbab dan Baso Sumange Mengerti dan menunggu perkembangan. Sorenya, saya mendengar dua wartawan saya didatangi rumahnya oleh aparat polisi. Mereka berusaha untuk mendapatkan kaset rekaman itu. Satu wartawan saya dikabarkan telah diteror untuk mendapatkan kaset itu.
Syukur Indarwati telah menggandakan kaset itu. Aslinya saya pegang, satu untuk pengacara AJI, dan satu lagi persiapan jika nanti direbut paksa oleh orang-orang Kapolda. Sambil menunggu perkembangan, saya terus memantau situasi dan terus menyiapkan liputan-liputan yang berkaitan dengan kasus Kapolda ini. Ya, saya harus melanjutkan berita ekslusif tersebut.
Di pihak Polda Sultra, ternyata sudah menyiapkan surat panggilan atas laporan Amir Iskandar Panji dalam kasus pencemaran nama baiknya. Besoknya surat panggilan sebagai saksi terlapor saya terima. Surat itu kemudian saya diskusikan dengan Arbab Paproeka dan Baso Sumange. Disimpulkan saya harus dibela karena dilihat dari kasusnya Kapolda sebenarnya salah alamat. Yang bernyanyi Kapten Boy tapi yang kena sasaran Kendari Ekspres. Artinya sikap ngotot Kapolda dinilai sudah arogan. Maka 8 pengacara langsung bergabung untuk membela saya dan Kendari Ekspres.
Surat penggilan sebagai saksi saya penuhi. Tapi di depan penyidik saya menolak tegas diperiksa. Argumen saya, aku bersaksi untuk tersangka siapa? Saya harus tahu dulu siapa tersangkanya. Jangan-jangan saya bersaksi untuk tersangka yang saya tidak tahu sama sekali. Mereka terima, saya pun pulang. Namun saya belum bernapas surat berikutnya menyusul. Hanya selang satu hari, saya sudah jadi tersangka.
  Langkah hukum Kapolda mengundang reaksi। Sebab substansi permasalahan adalah Kapolda salah alamat jika memperkarakan Kendari Ekspres. Itu liputan murni, fakta yang didapat melalui pengamatan langsung di persidangan. Kalau Kapolda ngotot memperkarakan Kendari Ekspres, di situlah Kapolda sebagai pejabat yang bertindak arogan. Isu arogansi inilah yang diusung untuk mengecam langkah Kapolda Sultra. (bersambung)



11 Agustus 2007

Konfrontasi Melawan Kapolda (1)

SAMA halnya ProDem, pada 1999 Kendari Ekspres juga banyak sandungan. Kalau ProDem nyaris digugat perdata oleh Kajati Sultra Soewarsono SH, Kendari Ekspres malah sudah dipidanakan oleh Kapolda Sultra Kol Pol Amir Iskandar Panji. Saya langsung jadi tersangka pencemaran nama baiknya. Bersyukur ada 8 pengacara secara spontan menjadi lawyer kami waktu itu, antara lain Arbab Paproeka SH dan Baso Sumange Rellung SH.
Inilah kasus delik pers yang berat yang menimpa saya. Itu karena korbannya adalah Kapolda yang nota bene dia korban, dia melapor, dan dia pemeriksa. Apalagi kasus pidana selalu berhubungan dengan publik figur. Parahnya, Kapolda tidak mau menggunakan UU Pers yakni UU 40/1999.
Saya tidak menyangka kalau Kapolda marah sekali. Padahal, kasusnya berawal dari tulisan wartawan saya saat meliput langsung di persidangan kasus narkoba di Pengadilan Negeri Kendari. Waktu itu ada sidang kasus narkoba yang melibatkan lima tersangka. Salah satunya anggota Polri. Di peradilan sipil anggota Polri itu hanya jadi saksi. Dia terlibat tapi peradilannya di Mahmil atau DKP (Dewan Kehormatan Perwira) karena statusnya sebagai anggota polisi.
Kapten Boy ditangkap oleh jajarannya sendiri saat pesta sabu-sabu di rumahnya bersama 4 kawannya yang sipil. Sebagai saksi di PN, Boy dikonfrontir oleh hakim. Mengapa terlibat, mengapa sering mangkir dari tugas tapi tiba-tiba ditangkap oleh petugas. Boy bercerita panjang lebar. Cerita Kapten Boy ini dikutip langsung oleh wartawan saya yang meliput.
Salah satunya yang menarik, pernyataan Kapten Boy yang mengaku resah terhadap Kapolda. Kapolda, katanya, selalu minta "jatah" tiap bulan Rp 3 juta dari hasil menangkap dan melepas pelaku narkoba. Memang Kapten Boy ditugaskan khusus dalam operasi narkoba di sana. Nyanyian Kapten Boy itu itu dimuat Kendari Ekspres dengan judul mentereng: Upeti Rp 3 Juta per Bulan buat Kapolda.
Pukulan telak, karena sumbernya langsung di pengadilan yang terbuka untuk umum dan didengar oleh banyak yang hadir. Usai sidang wartawan saya pun masih berniat mewawancarai Kapten Boy. Dia menolak, namun mempersilakan mengutip pernyataannya di persidangan tadi.
Berita itu juga saya kirim ke Jawa Pos di Surabaya. Tak disangka berita itu dibaca Kapolda di atas pesawat selepas transit di Surabaya. Jawa Pos memang dibagi gratis di atas pesawat itu. Muka Kolonel Amir Iskandar Panji merah setelah membaca berita dirinya. Saat tiba di Kendari, berita yang sama dimuat di Kendari Ekspres. Dia tambah berang.
Besoknya muncullah surat bantahan sekaligus udangan jumpa pers dari Kapolda. Semua wartawan penting diundang. Dari Kendari Ekspres saya sendiri yang datang, Kendari Pos ada Hasanuddin. Dari ProDem juga hadir. Reporter koran nasional juga diundang sehingga hari itu kami ada 10 orang di hadapan Kapolda.
Di situlah Kapolda melampiaskan murkanya. Dia berteriak dan menghardik dengan sorot mata yang seolah ingin melumat saya. Perwira polisi ini bahkan bersumpah demi Allah tidak makan sesen pun duit dari Kapten Boy. Saat itu Kapten Boy dimasukkan dalam sel Polda. Untuk membuktikan Kapolda berteriak minta dipanggilkan Kapten Boy dari sel tahanan. “Siap Pak!” kata Boy menghadap Kapolda.
Boy dikonfrontir. Benarkah ada wartawan yang mewawancarai kamu? Boy mengatakan ada yang minta tapi ditolak. "Kalau mau kutip saja pernyataan saya di sidang tadi," jawab Boy. Itulah pegangan wartawan saya. Saat kapolda menanyakan apa ada rekaman, saya jawab ada. Memang waktu itu wartawan saya, Indarwati, melengkapi diri dengan perekam. Kasetnya dia simpan secara baik. Itu pula-lah yang menjadi alat bukti kami melawan tuduhan Kapolda.
Tidak ada kesimpulan dari pertemuan itu Yang ada saya kena damprat habis-habisan. Namun saya yakin kami tidak salah. Saya dan wartawan saya telah menjalankan tugas sesuai aturan. Kami pun punya alat bukti berupa rekaman pernyataan Kapten Boy di pengadilan. Indarwati cukup cerdas dengan menggandakan rekaman itu. (bersambung)

07 Agustus 2007

Membidani Berdirinya Kendari Ekspres




SATU surat kabar lainnya yang berada di bawah payung Jawa Pos Group adalah Kendari Ekspres. Kendari Ekspres adalah koran kedua setelah Kendari Pos. Surat kabar ini mulai dirancang sejak 1999 oleh Alwi Hamu, Direktur Pengembangan Anak Perusahaan Jawa Pos Grup. Alwi yang kini koordinator staf khusus Wapres Jusuf Kalla memanggil saya untuk membicarakan rencana pendirian Kendari Ekspres. Dipanggil pula Sultan Eka Putra untuk membicarakannya.
Pembicaraan dilakukan bertiga di Hotel Aden, Kendari. Banyak nama yang muncul, namun Alwi Hamu memutuskan memakai nama Kendari Ekspres. Format, content, dan segmennya juga diputuskan. Semua kebutuhan seperti kantor dan segala isinya akan diinvestasi dari Harian FAJAR. Alwi menggaransi Kendari Ekspres akan terbit secepatnya.
Sementara Pak Alwi mendelegasikan ke Harian FAJAR untuk mengurus akte perseroannya, saya dan Sultan langsung gerak cepat juga. Kebetulan saya berdua waktu itu sedang tekun-tekunnya mengelola Tabloid ProDemokrasi (ProDem), sehingga ada fasilitas dan SDM yang bisa saya manfaatkan. Format dan isinya saya rancang sendiri dengan membuat print out-nya seukuran A4, masing-masing halaman. Banner dan font-nya juga saya bikinkan simulasi agar didapat yang ideal.
Bersyukur saya mahir program PageMaker dan Photoshop, sehingga rancangan isi dan desain Kendari Ekspres saya buat sendiri sambil mendiskusikan dengan Sultan Eka Putra dan teman-teman lain. Rancangan sudah, font sudah, dan content-nya pun telah oke. Outline-nya sudah ada. Kini yang dibutuhkan bagaimana menerbitkannya. Tapi sebelum itu saya harus konfirmasi aktenya seperti apa, siapa direksinya, dan seterusnya.
Yang aku ingat waktu itu saya ikut bertandatangan akte bersama Alwi Hamu, Syamsu Nur, Dahlan Iskan, dan Mahtum Mastoem (alm). Dari keempatnya tersusun siapa direksi dan komisarisnya. Untuk lebih pasnya, saya masih harus menanyakan Pak Alwi. Misalnya siapa pemimpin umum, siapa pemimpin redaksi-nya, dan siapa pemimpin perusahaannya. Dari Pak Alwi ada gambaran saya jadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi. Sultan pemimpin perusahaan. Tapi belakangan Sultan Eka Putra ditarik ke Harian FAJAR.
Dari gerak cepat saya ada harapan kalau koran ini bisa diterbitkan secepatnya. Lebih lagi karena kantor sudah saya siapkan, yaitu ruko 3 lantai milik istri saya. Pengaturannya nanti, ProDem di lantai 3 dan Kendari Ekspres di lantai 2. Istri setuju, namun ProDem merasa saya abaikan. Akhirnya, sambil menunggu 'modal', kami jalan terus dengan mencoba terbit secara mingguan dulu. Cetaknya bukan di Kendari Pos tapi di Harian FAJAR Makassar. Terbit mingguan berlangsung beberapa bulan. Bahkan dalam rentang itu, Kendari Ekspres mengalami kasus gugatan dari Kapolda Sultra Kol Pol Drs Amir Iskandar Panji. Dia keberatan diberitakan menerima upeti Rp 3 juta per bulan dari hasil operasi narkoba. Kasusnya heboh, sampai-sampai DPRD turun tangan melakukan 2 kali hearing. Soal ini akan saya ceritakan berikutnya.

Lomba karaoke adalah salah satu kegiatan koran kendari ekspres। Saat masih mingguan, Kendari Ekspres sudah mengadakan berbagai kegiatan। Selain lomba karaoke di atas, juga sukses mendatangkan Grup Band Sheila on Seven untuk konser di stadion sepakbola Lakidende Kendari


Kasus Kapolda berakhir, Kendari Ekspres menerima kiriman komputer dan perlengkapan lainnya dari Harian FAJAR. Ini tanda bahwa Kendari Ekspres segera terbit secara harian. Tahun berganti sampai akhirnya Pak Alwi dan Pak Syamsu Nur datang untuk memastikan kesiapan kami. Rapat memastikan Kendari Ekspres segera go menjadi harian.
Hari-hari pertama terbit secara harian cukup berat. Kendari Ekpsres harus kuat melakukan penetrasi pasar harian yang sudah didominasi Kendari Pos. Namun begitu, pembaca setia Kendari Ekspres cukup banyak, sehingga ada pasar tersendiri yang terus dibina. Kesan Kendari Ekspres adalah koran kedua di Kendari, memang benar. Namun ada tekad dari pengelola untuk membalikkan keadaan menjadi koran nomor satu.
Untuk itu saya menyiapkan motto yang menjadi pegangan teman-teman. Motto ini saya jadikan wallpaper di semua komputer redaksi. Mottonya adalah “Mata Bagi Sejuta Rakyat, Kata Bagi Sejuta Rakyat, dan Hati Bagi Sejuta Rakyat”. Entah apakah motto ini masih dipakai, namun edisi terakhir yang saya baca di Jakarta format Kendari Ekspres yang ada sekarang nyaris tidak ada perubahan dari sejak terbit pertama.
Entah mengapa sudah 7 tahun tidak berubah-berubah juga, sementara situasi dan kondisi terus mengalami perubahan yang cukup pesat. Kendari Ekspres tidak berubah di tengah perubahan, padahal kita tahu bertahan di tengah perubahan dan tuntutan perkembangan sama halnya kemunduran. Awaknya terlihat kerja keras tapi hasilnya jalan di tempat. Akibatnya muncul rasa capek, jenuh, karena tidak ada kemajuan, dan akhirnya kehilangan motivasi.


04 Agustus 2007

Kajati Marah, Kajati Berang

TABLOID ProDemokrasi banyak sandungan. Ulasan-ulasannya banyak yang membuat orang kebakaran jenggot. Mungkin ini balas dendam setelah kran kebebasan pers dibuka. Para wartawan yang tadinya hidup dalam bayang-bayang pembredelan, kini berubah bebas, bahkan ada yang bablas. Syukurlah ada aturan main yang selalu kami pegang.
Suatu hari ProDem membuat cover depan dengan judul "Kejaksaan Gombal". Judul itu ingin menegaskan bahwa kinerja Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra sangat amburadul. Reformasi mengagendakan salah satunya adalah penegakan supremasi hukum, tapi kejaksaan saat itu masih jalan di tempat. Istilah gombal dalam hal ini diambil dari bahasa populer sehari-hari. Bukan pengertian dalam bahasa Jawa.
Pelanggaran hukum merajalela, namun kejaksaan hanya janji-janji gombal untuk meringkus pelakunya. Tidak ada action, bahkan banyak yang dipetieskan. Lainnya diselesaikan dengan istilah 86. Ulasan ProDem sangat telak dalam menggambarkan kinerja Kejati Sultra. Maka besoknya, Kajati Sultra, Soewarsono SH, langsung mencak-mencak.



Hari itu adalah hari Jumat. Di saat kantor ProDem sepi, Soewarsono datang. Marah dan mencari pemimpin redaksi ProDem. Sekretaris redaksi bingung. Maklum dia perempuan. Saat saya datang, Soewarsono sudah pulang. Dia menitip pesan berat: Mohon pemimpin redaksi besok datang menghadap Soewarsono SH di ruang kerja Kajati Sultra.
Saya tidak kaget, sebab pejabat di era orde baru adalah pejabat yang haus dilayani, disanjung, dan jangan coba-coba disentuh. Itu terbawa sampai memasuki era reformasi 1998 dan seterusnya. Tidak heran kalau Kajati Sultra marah bukan kepalang.
Besoknya saya memberanikan diri memenuhi panggilannya mewakili pemimpin redaksi (jabatan saya direktur pemberitaan yang membawahi komponen redaksi). Di depan Soewarsono SH saya dibentak-bentak. Marahnya serius sekali. Dia tersinggung lembaganya diidentikkan dengan gombal. Kesimpulannya dia tidak terima penjelasan saya tentang pengertian gombal.
Karenanya dia ingin agar ProDem meminta maaf melalui koran nasional dan koran lokal. Kami tidak terima, sehingga tiga hari kemudian Kajati melayangkan surat panggilan untuk menghadap ke Kajati untuk kembali minta penjelasan mengenai berita tersebut. Saya tidak datang, tapi cukup membalas dengan surat pula yang isinya bahwa penjelasan saya sudah jelas sebagaimana yang saya sampaikan dalam pertemuan sebelumnya.
Sepekan lamanya tidak ada kelanjutan. Namun diam-diam ternyata Kajati sudah menyiapkan kasus ini secara perdata. Satu bundel berkas siap disampaikan ke Pengadilan Negeri (PN) Kendari. Itu saya tahu setelah Kepala LKBN Antara Kendari Rolex Malaha menelpon saya dari ruang kerja Soewarsono SH. Dialah yang mencegat Kajati agar tidak buru-buru membawa kasus ini ke PN Kendari.
Kemudian Rolex menyampaikan opsi bagaimana kalau pihak ProDem datang ke Kejati untuk bertemu lagi dengan Soewarsono SH। Saya tolak, dan minta bertemunya di tempat netral saja. Saya tidak mau bertemu di kantornya. Saya juga tak mau lagi dia datang ke ProDem. Saya sudah menunjukkan netralitas, dia datang ke ProDem aku datang ke Kejati. Dia bersurat, saya balas dengan surat pula. Selanjutnya saya mau di tempat netral.
Lama baru ada jawaban. Tempatnya, Kajati menyerahkan kepada saya. Aku pilih rumah makan Padang yang letaknya di tengah-tengah antara kantor ProDem dengan kantor Kejati Sultra. Jamnya ditetapkan malam, ya saat-saat makan malam. Malamnya dia membawa wakil Kejati, Kajari Kendari, dan kepala Humas-nya. Saya membawa Kepala Iklan, Sultan Eka Putra, Pemimpin Redaksi, Mappajarungi, dan seorang reporter, Andi Sangkarya Amir.
Pertemuan diawali dengan langsung adu argumentasi. Rolex sebagai penengah cukup hati-hati. Soewarsono bertahan dengan keinginannya agar ProDem minta maaf di beberapa media nasional dan lokal, sementara kami bertahan tidak akan meminta maaf kepada Kajati. Kalau mau dilanjutkan terserah. Masih alot meski pada akhirnya pelan-pelan Kajati mengerem sedikit-sedikit keinginannya itu.
Kesimpulannya ProDem siap membuat pengantar redaksi sekaligus mengklarifikasi pengertian gombal tersebut. Tidak ada permintaan maaf kepada Kajati, kecuali kepada masyarakat yang keberatan dengan istilah gombal itu. Sebab istilah gombal sudah sangat memasyarakat. Naskah itu nanti akan dilihat atau dikoreksi oleh Kajati sebelum diterbitkan.
Besoknya, naskah itu saya minnta kepemimpin redaksi, Mappajarungi, untuk dibawa ke Soewarsono untuk diperiksa. Ruapanya dia kurang sreg dengan isinya. Namun akhirnya mencoret beberapa kata yang tidak tepat dalam istilah hukum. Aman. Kami senang.
Malamnya di saat kami diskusi di kantor, tiba-tiba Soewarsono muncul. Ada apa? Jangan-jangan dia berubah pikiran, mau mengubah naskah tadi. Ternyata tidak. Dia datang silaturahmi sekaligus menanyakan kapan Baharuddin Lopa (almarhum, waktu itu masih menjabat Dirjen LP) datang ke ProDem. Kami jawab besok.
Memang besoknya Baharuddin Lopa mengagendakan berkunjung ke ProDem atas fasilitas Alimaturahhim yang mengundangnya ke Kendari. Diagendakan berdiskusi dengan jajaran redaksi di kantor ProDem. Soewarsono adalah teman lama Baharuddin Lopa. Kami tak lupa minta Soewarsono hadir dalam diskusi itu. Dia setuju, semua setuju, semua senang.


21 Juli 2007

ProDemokrasi, Tabloid Pertama di Sultra

KALAU Media Kita adalah koran harian pertama di Sultra, maka ProDemokrasi adalah tabloid pertama yang ada di Bumi Anoa tersebut. Bedanya, Media Kita lahir 3 tahun sebelum reformasi, sedangkan ProDemokrasi lahir setahun setelah reformasi bergulir. Perbedaan lainnya Media Kita berada dalam grup besar, yakni Jawa Pos, sedangkan ProDemokrasi tidak ada apa-apanya. Dia hanya didirikan oleh praktisi pers dan hukum.
Pendirinya 6 orang terdiri 4 dari kalangan pers dan dua dari praktisi hukum. Saya dari pers bersama Sultan Eka Putra, Mappajarungi, dan Andi Sangkarya Amir. Dua dari praktisi hukum adalah Arbab Paproeka SH (kini anggota DPR dari PAN Sultra) dan Baso Sumange Rellung SH (advokat pertama di Sultra). Keenamnya bertemu dalam suatu kesempatan di Hotel Aden Kendari. Dari perbincangan semua ingin adanya media independen yang bisa menjadi penyeimbang terhadap arus informasi di Sultra yang trend-nya makin tidak punya greget.
Dari perbincangan itu disetujui mendirikan Tabloid ProDemokrasi, belakangan populer disebut ProDem। Modalnya adalah sharing dari keenam pendiri ini। Dari enam itu pula kami bagi tugas. Dalam akte, ada dewan pendiri dan dewan pengurus. Pendiri adalah 5 orang, pengurusnya 6 orang. Yang pendiri juga adalah pengurus, yang pengurus juga masuk sebagai pendiri. Cuma dibolak balik saja. Yayasan inilah yang menerbitkan ProDem.



KRU PRODEM DAN KENDARI EKSPRES DALAM SUATU ACARA KELUARGA (ULTAH KE-6 ANAK SAYA) DI KENDARI. TAMPAK INDARWATI, ASTIAN, (ALMH) MULIATI, LA ODE ANDI MUNA, DAN DEDI MUHAMMAD


ProDem adalah tabloid pertama di Sultra. Dia juga tabloid pertama di luar Jawa di era reformasi setelah Tabloid Topik di Makassar. Di Sultra belakangan mucul tabloid lain dengan segmen dan content yang mirip satu sama lain. Semua juga didirikan oleh praktisi pers. Almarhum H Nasrun Yahya menyusul menerbitkan Tabloid Topik Info beberapa bulan setelah ProDem.
Tabloid ProDem dikelola secara swadaya। Para pendiri misalnya Arbab Paproeka, Baso Sumange, Sultan Eka, dan saya sangat yakin ini bisa maju। Itu karena SDM tabloid ini umumnya adalah orang-orang yang sudah jadi। Orangnya hampir separoh pindahan dari Harian Media Kita. Mereka eksodus karena ada problem di sana. Sultan Eka Putra adalah manajer iklan di Media Kita, Astian yang staf iklan di Media Kita juga pindah.
Untuk AJI, dari beberapa nama yang direkomendasikan dalam pertemuan pembentukan AJI Kendari, nama saya ditetapkan oleh AJI Indonesia sebagai ketua. Sekretaris ditunjuk Mappajarungi. Kepengurusan dilengkapi kordinator-kordinator. Arbab dan Baso Sumange juga masuk. Mengapa? Karena keduanya ikut banyak bersuara soal kebebasan pers, selain karena dia pun orang pers dengan mendirikan ProDem.
Yang berseni dari pengelolaan ProDem adalah saat tiba waktu mau cetak. Iklan dan langganan belum tertagih tapi kami sudah harus bayar biaya cetak. Untuk mengantisipasi, terpaksa rogoh kocek sendiri. Dari kantong Arbab sudah tak terhingga lagi. Pengambilan dari uang pribadi para pendiri dihitung sebagai saham masing-masing. Kalau mau dihitung Arbab-lah pemegang saham mayoritas.
Di tengah perjalanan mengelola ProDem, saya pelan-pelan mengurus pendirian Koran Kendari Eksres. Pembicaraan dengan Alwi Hamu sudah oke. Tinggal bagaimana terbitnya. Padahal kantor, SDM, dan fasilitas lainnya belum dikasih. Saya berencana memanfaatkan dan sharing dengan ProDem. SDM-nya saya pakai untuk menerbitkan Kendari Ekspres, begitu juga fasilitasnya. Kantor ProDem yang merupakan ruko 3 lantai milik istri saya harus rela mau dipakai secara gratis. ProDem di lantai 3, Kendari Ekspres di lantai 2.
Sayangnya, rencana saya ditentang Mappajarungi.Dia tidak siap sharing. Sempat tegang meski akhirnya dia memilih opsi dengan memindahkan kantor ProDem ke tempat lain. Mantan-mantan Media Kita memilih Kendari Ekspres, sementara rekrutan baru ProDem memilih ikut pindah. Mappajarungi memboyong ProDem dengan alasan saya telah meninggalkan ProDem. Penilaian yang sebetulnya tidak benar.


17 Juli 2007

Bantu-Bantu Sepakbola Kendari

SAYA termasuk penggemar sepakbola. Dari kecil sudah senang dengan permainan ini. Semasa SMP saya dan teman-teman suka bermain bola di lapangan sepakbola Kampus Unhas lama di kawasan Bara-baraya, Makassar. Kebetulan lapangan itu berada di tengah-tengah kompleks perumahan dosen Unhas. Anak-anak dosen Unhas waktu banyak yang ikut main bola. Latihan bersama, lalu ikut kejuaraan antar kecamatan se-Makassar.
Kami semua membela Kecamatan Tallo. Saya termasuk pemain inti dengan posisi stopper, waktu itu dikenal dengan nama poros halang. Ada juga yang namanya kiri luar dan kanan luar. Saya pakai kostum nomor 5. Sayang waktu itu kami hanya lolos sampai babak kedua. Dari situ dunia sepak bola sudah menjadi bagian saya. Latihan dan latihan terus, sampai ikut memperkuat SMA Islam dalam berbagai pertandingan.


BERSAMA SUHEDDANG ASDAN (DUDUK) SELAKU WAKIL BENDAHARA PERSATUAN SEPAKBOLA KENDARI SAAT AUDIENSI DENGAN PIMPINAN BANK INDONESIA CABANG KENDARI

Saat bekerja di Media Kita, 1995/1996, sepakbola juga menjadi perhatian saya. Saya lihat sejarah, Jawa Pos maju salah satunya karena mendukung Persebaya yang memiliki banyak penggemar. Jawa Pos-lah yang membentuk komunitas bonek, dan bonek ini sangat sayang dengan Jawa Pos. Cara Jawa Pos diikuti Harian FAJAR. Koran ini pun mendukung habis-habisan PSM Makassar, sehingga suporternya sangat mencintai koran ini. Kalau PSM main di luar kandang, cara suporter untuk mengetahui skor pertandingan adalah menanyakan ke FAJAR. Saya selalu menerima telepon penggemar itu saat saya masih di FAJAR.
Cara Jawa Pos dan FAJAR itu saya coba terapkan di Media Kita. Sayangnya tradisi sepakbola di Kendari sama sekali tidak ada. Tim perserikatannya yang dikenal hanyalah Persatuan Sepakbola Kendari (PSK), tapi stagnan dan hanya bercokol di Divisi II PSSI. Parahnya, pengurus perserikatan sudah 10 tahun mandek, tanpa ada pergantian. Tumbo Saranani sudah berkarat di sana tanpa diganti-ganti. Saya miris juga melihatnya. Ada club, tapi itu hanya binaan Kanwil/Dinas PU. Pemainnya bagus-bagus, tapi sayang mereka tidak bisa menjadi pemain profesional karena PSK-nya mandek.
Saya mencoba masuk guna meretas kebekuan sepakbola di Kendari itu. Tujuan saya dua, yakni memajukan sepakbola Sultra dan sekaligus menjadikan koran saya, Media Kita, sebagai bacaan wajib para insan sepakbola, seperti Jawa Pos dan Harian FAJAR tadi. Untuk masuk, tidak gampang. Sebab, saya bukan orang lama di Kendari. Juga karena memang tidak ada tradisi sepakbola di sana. Pengurusnya karatan.
Tapi saya punya ide. Mula-mula saya mendatangi para dedengkot sepakbola. Tanya ini itu. Benar terjadi stagnasi pembinaan lantaran pengurusnya tidak pernah diganti-ganti. Padahal Tumbo Saranani yang memegang perserikatan di sana adalah wasit nasional yang cukup dikenal di kancah sepakbola Indonesia. Dari situlah saya masuk. Saya bikin diskusi berkala dengan tema tunggal: "PSK Menuju Divisi I PSSI". Ya, itu karena PSK terus saja bercokol di Divisi II. Jadi targetnya Divisi I dulu baru kemudian berusaha lolos ke Divisi Utama. Step by step.
Menggelar diskusi pun tidak mudah. Saya harus pontang panting cari sponsor. Lagi pula waktu itu Harian Media Kita tidak punya budget untuk itu. Yang bisa dilakukan hanyalah mensuport pemberitaan. Jadinya saya jalan sendiri mencari dana untuk diskusi, tak sedikit pula saya merogoh kocek untuk itu. Nama-nama seperti Zaenal Asmada, Umar Saranani, Anwar Hamzah, Suheddang Asdan, Sultan Eka Putra, Tumbo Saranani, Ritonga, sudah cukup akrab dalam setiap diskusi. Orang penting lainnya adalah Buhari Matta (kini Bupati Kolaka, Sultra).
Empat kali diskusi digelar akhirnya ditemukan solusi, bahwa pertama-tama yang harus dilakukan adalah merestrukturisasi pengurus. Pengurus lama harus legawa berhenti dan diganti yang benar-benar gila bola. Semua setuju demi sepakbola Kendari. Untuk memilih pengurus, semua menyerahkan pada Walikota Kendari yang waktu itu dijabat Masyhur Masie Abunawas. Memang begitu karena perserikatan sebenarnya adalah milik Pemkot atau Pemda.
Hasilnya, Masyhur Masie Abunawas jadi ketua umum PSK, Buhari Matta jadi ketua harian, Amran Yunus sebagai bendahara, Asdan wakilnya, dan saya bersama Ahmad Mujahid cukup sebagai sekretaris. Pengurus terbentuk, dilanjutkan dengan sosialisasi secara gencar. Ekspos di Media Kita luar biasa besar. Saya bahkan mengumumkan secara besar bahwa akan ada seleksi pemain PSK untuk proyeksi masa depan. Tak lupa saya melalui Media Kita membuat rubrik poling untuk mencari julukan yang tepat untuk tim PSK. Akhirnya didapat: "Pasukan Anoa".
Langkah selanjutnya adalah seleksi pemain. Saya mengurus sosialisasi dan menyiapkan material kelengkapan. Dana terkumpul cukup banyak untuk menyiapkan tim. Dana pribadi Buhari Matta tak terhitung lagi. Setelah seleksi, didapat 40 pemain. Inilah yang ditempa dengan melakukan banyak kali ujicoba. Misalnya melawan PSM Makassar, PSM All Star, PSK All Star, Tim AL Kendari, Tim Linud Kendari, dan sebagainya. Ada harapan bisa lolos ke Divisi I.
Dan, ternyata memang dalam Kompetisi Divisi II se Sultra, Pasukan Anoa juara setelah mengalahkan Persimuna di kandang lawan, Stadion Paelangkuta Muna. Tahun 1997 PSK mewakili Sultra berlaga di Divisi II regional Sulawesi. Di saat PSK sudah mulai menapaki sukses, saya justru berhenti dari Harian Media Kita. Kepemimpinan Media Kita di bawah Kamil Badrun justru sangat phobia dengan sepakbola Kendari. Dia tidak mendukung, saya pun mundur.



MEWAKILI REDAKSI MEDIA KITA DALAM RUPS JAWA POS GROUP DI SURABAYA


Saat reformasi bergulir, orde baru tumbang, semua jadi banyak berubah. Saya kembali ke habitat sebagai jurnalis dengan mendirikan Tabloid ProDemokrasi. Selanjutnya menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari. Seluruh wartawan ProDemokrasi ikut masuk anggota AJI, kemudian mendirikan pula Kendari Ekspres, juga milik Jawa Pos. Saya ditunjuk jadi pemimpin umum/pemimpin redaksinya.

12 Juli 2007

Sebagai Starter di Koran Media Kita


MENYAMPAIKAN PIDATO PADA ACARA PERINGATAN HUT KE-2 HARIAN MEDIA KITA.

Jawa Pos diakui sangat sukses mengembangkan anak perusahaan. Hingga kini Jawa Pos Grup telah memiliki 150 media yang tersebar sampai ke ibu kota kabupaten. Pada tahun 2000 seluruh ibu kota provinsi sudah dikuasai Jawa Pos. Salah satu anak perusahaannya adalah Kendari Pos yang mula didirikan bernama Media Kita.
Media Kita terbit pertama pada 1985. Mulanya adalah dwi mingguan namun setelah diakuisisi Jawa Pos langsung terbit secara harian. Pendiriannya pun cukup berliku. Direktur Pengembangan Anak Perusahaan Jawa Pos, Alwi Hamu, ada di belakang akuisisi itu. Tercatat beberapa kali Alwi Hamu bolak-balik Makassar-Kendari untuk sosialisasi rencana penerbitan Harian Media Kita. Saya sempat mempertemukan dengan Gubernur La Ode Kaimuddin, dan mengawal rencana pendirian Harian Media Kita ini.
Bersama Aidir Amin Daud, saya juga diminta ikut bantu-bantu rekruitment wartawannya. Iklan penerimaan wartawan berkali-kali ditayangkan di Harian FAJAR. Banyak pendaftar, bahkan ada yang langsung dari Makassar. Yang menonjol dalam rekruitment itu adalah mereka yang berlatarbelakang aktivis kampus dan pengelola pers di kampusnya. Nama-nama seperti Jufri Rahim, Jumwal Saleh, Rustam, Andi Sangkarya Amir, Ciman, Indarwati, dan lainnya adalah nama-nama yang sukses bertahan sebagai jurnalis profesional.
Selain itu, personil lama dwi mingguan Media Kita juga terpakai untuk sharing pengalaman dengan wajah-wajah baru. Personil lama yang masih saya ingat adalah Benyamin Bittikaka, Altor M. Opposunggu, almarhum Nasrun Yahya, Luther Bittikaka, La Witiri, dan H Hasan. Ada pula La Paa yang belakang hengkang dari Pelita. Beberapa juga didatangkan dari Harian FAJAR, di antaranya Ramli Ahmad, Sultan Eka Putra, Purwanto, Anis, dan lain-lainnya.
Sebelum terbit pertama, disusun masing-masing penanggungjawab halaman. Rapat dipimpin Alwi Hamu dan H Syamsu Nur, direktur Harian FAJAR, bersama PP Bittikaka dan Aidir Amin Daud. Semua halaman terbagi rata. Orang-orang lama masing-memegang halaman, termasuk La Paa. Sebagai Redaktur Pelaksana ditunjuklah saya bersama Ramli Ahmad. Saya dipilih karena diharapkan roh Jawa Pos ikut bersemayam dalam liputan-liputannya. Kebetulan saya adalah orang Jawa Pos yang ditempatkan di Kendari Sultra. Paling tidak kehadiran saya bisa mewakili Jawa Pos, sama dengan yang lainnya di setiap anak perusahaan yang diakuisisi. Ramli Ahmad memang bukan dari Jawa Pos langsung, tapi hasil tempaan Harian FAJAR yang nota bene para jurnalisnya juga berguru dari Jawa Pos.


JAJARAN REDAKSI MEDIA KITA KETIKA AUDIENSI DENGAN DANREM HALUOLEO KENDARI I.H. NASUTION. DARI KIRI LAPAA, NASRUN YAHYA (ALM), SYAHRIR LANTONI, ALTHOR M. OPPUSUNGGU, I.H. NASUTION, PP BITTIKAKA, KARIM, DAN RAMLI AHMAD.

Terbit pertama cukup melelahkan. Pak Ancu -panggilan akrab Syamsu Nur- bahkan sampai tidak tidur menuggu cetakan pertama koran Media Kita.Sebagai rasa syukur kami mengundang para pejabat Sultra untuk menyaksikan proses pembuatan koran kami. Kanwil Penerangan, Karo Humas Pemda Sultra berkenan datang. Tak ketinggalan sesama profesi wartawan yang bertugas di Sultra. Inilah koran harian pertama dan satu-satunya di Sultra. Koran harian yang sebetulnya sangat dinanti-nantikan di daerah itu.
Tahun pertama memang berat. Banyak pekerjaan berat yang harus dilakukan seluruh komponen. Apalagi saat itu tradisi keagenan di Sultra nyaris tidak ada, lebih-lebih biro Iklan. Koran nasional yang beredar di Kendari kebanyakan disalurkan oleh toko-toko buku. Mereka bukan agen, tapi toko buku. Mereka hanya mengantar pesanan, bukan perambah pasar koran. Jadi jajaran Media Kita pun harus membentuk agen sendiri. Nanti akan dibina. Ternyata mencari agen pun susah-susah banget.
Itu berlangsung setahun. Pada tahun kedua keagenan dan iklan mulai menggeliat. Media Kita pun mulai diterima sampai ke pelosok-pelosok kecamatan di seluruh kabupaten di Sultra. Agen dan pembinaannya makin baik. Iklan mulai mengalir. Liputan-liputan khas Jawa Pos juga makin beragam. Dari 8 halaman ditingkatkan jadi 12. Dalam kurun waktu 2 tahun Koran Media Kita sudah menjadi pilihan utama di Sultra. Tidak ada saingan, dan terus melenggang sendiri.
Secara kuantitas saya ikut puas, namun secara kualitas Koran Media Kita belum ada apa-apanya. Kualitas sangat dipengaruhi oleh salah satunya soliditas pengelolanya. Ternyata konflik sudah masuk, dua kepentingan beradu di dalam. Sebenarnya konflik internal ada di mana-mana. Di grup Jawa Pos selalu terjadi, dan yang paling sering modusnya adalah pemilik lama melawan manajemen baru. Tapi sejauh ini semua konflik itu selesai dengan sendirinya ketika semua bertindak untuk kepentingan perusahaan, bukan kelompok, apalagi agama.
Di tengah konflik itu saya diminta keluar. Alwi Hamu menggaransi akan membuatkan satu koran lagi di Kendari. Saya setuju, dan kembali ke habitat saya di Jawa Pos. Aku akhirnya leluasa bergerak melakukan liputan-liputan untuk Jawa Pos, sementara Harian Media Kita berganti nama menjadi Kendari Pos.

09 Juli 2007

Bupati Usir Wisatawan, Usir Wartawan

JOB pertama di Jawa Pos adalah meliput kasus pengusiran wisatawan asing di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Saat itu Kabupaten penghasil kayu jati terbesar di Indonesia Timur itu dipimpin Drs Maola Daud (kini almarhum). Maola Daud termasuk pemimpin yang berhasil. Namun entah apa, ketika wisatawan asing berkunjung ke wilayahnya tiba-tiba diusir. Istilah kami waktu itu adalah pengusiran.
Pada Maret tahun 1992 itu, media massa yang memberitakan pertama hanya Jawa Pos. Sebenarnya ada koran lokal yang belakangan ikut memberitakan, yaitu Mingguan Nusantara Pos dan bulanan Media Kita. Koran yang berskala nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan lainnya luput. Belakangan setelah kasusnya berbuntut baru ramai.
Memang berita itu berbuntut. Maola Daud, sang bupati , merasa tak mengusir wisawatan. Aku tenang saja karena sumber berita saya adalah orang profesional di dunia pariwisata dan kebudayaan Muna, yaitu Siddo Thamrin. Tapi Siddo Thamrin adalah pihak yang sedikit berseberangan dengan Maola. Begitu Maola tahu sumbernya adalah Siddo Thamrin mencak-mencaklah dia.
Bupati yang putra daerah itu berang. Aku dengar dia marah dan mencari saya. Tapi saya berusaha bagaimana memahami psikologisnya dengan mencoba bertemu dia. Maka ditemani La Paa, jurnalis dari Pelita, saya mendatangi rumah kediaman Maola di Kendari. Saat itu keluarga Maola sedang menyiapkan sebuah pesta. Aku masuk mencoba menjelaskan, tapi saya berdua malah diusir. Tersiar kabar bupati usir wartawan.
Belakangan kasusnya berbuntut. Tak hanya mengusir wartawan, Maola juga dikabarkan mencari-cari saya dan La Paa. Ternyata benar. Istri La Paa didatangi orang-orang Maola, diancam dan rumahnya akan dibakar jika tak mendatangkan dua orang ini ke hadapan bupati. Wartawan di Kendari panik. Jangan-jangan terjadi tindak kekerasan pejabat terhadap jurnalis. Para wartawan kemudian berkumpul yang difasilitasi Yamin Indas, wartawan Kompas di Kendari. Sebelumnya saya dan La Paa minta pengamanan pada aparat kepolisian dan TNI.
Itulah pengalaman pertama sejak di Jawa Pos Kendari. Kasus Maola ini baru selesai ketika semua menahan diri. Rupanya pula Maola tak bermaksud menakut-nakuti wartawan. Dia hanya minta orang-orangnya memanggil saya dan La Paa untuk konfirmasi. Sayangnya cara yang dilakukan luar biasa sangar. Begitulah, dan akhirnya saya sulit melupakan yang namanya La Paa.




FOTO DIATAS DIPOTRET SAAT SANTAI SEJENAK KETIKA MELIPUT DI KOLAKA


Suksesi dan Persaingan Liputan
SETELAH kasus pengusiran wisatawan, Sultra memasuki masa-masa awal pemilihan Gubernur. Gubernur Ir H Alala (almarhum) sudah dua periode sehingga harus diganti. Penggantinya, banyak yang mau. Alala ingin penggantinya adalah kroninya, seperti Andi Pangerang Umar, Soleh Solahuddin, dan lain-lainnya yang memungkinkan. Tapi sayangnya TNI punya calon lain. Pangdam VII Wirabuana Zainal Basri Palaguna menginginkan figur dari militer, atau sipil yang berpikiran militer. Jatuhnya lari ke La ode Kaimuddin.
Pertarungan dimulai. Alala dan Pangdam VII tidak satu kata. Wartawan yang untung karena ada sumber berita-berita yang bernuansa konflik. Jurnalisme konflik sangat disukai warga. Golkar pusat turun tangan dengan mengutus Oetoyo Usman. Ketua Golkar Sultra Madjid Joenoes (almarhum) berkeras dan tak mau mengalah pada Oetoeyo Usman. Memang dalam pemilihan kepala daerah ada tiga piliar yang harus sepakat. Yakni apa yang disebut ABG, yaitu ABRI, Birokrat, dan Golkar.
ABRI dan Golkar Pusat kelihatannya minta agar La Ode Kaimuddin yang jadi, sementara Birokrat yang dipegang Alala menolak, begitu pula Madjied Joenoes selaku kroni Alala. Tak hanya itu mayoritas rakyat Sultra juga menolak kroni Alala, siapa pun. Yang mereka mau adalah Kaimuddin. Penolakan oleh Alala disambut gelombang demo. Konflik, perseteruan terus berlangsung hingga September-Oktober. Gelombang massa tak terkendali, namun Alala bertahan. Pers saat itu juga kelihatannya cenderung berpihak ke ABRI, bukan Kaimuddin. Pertarungan berakhir ketika Kaimuddin dilantik jadi gubernur oleh Mendagri yang dijabat Rudini.


REDAKTUR DAN KORESPONDEN Jawa Pos DALAM PERTEMUAN DI BALI. SAYA DUDUK PALING KIRI BERSAMA ARIF AFFANDY (KINI WAKIL WALIKOTA SURABAYA), MAHIYUDDIN LAKAWA, DAN ASMADI.

Heboh suksesi di Sultra sampai ke level nasional. Maka pelantikan La Ode Kaimuddin menjadi riuh dan banyak media nasional mengirimkan wartawannya ke Kendari. Jawa Pos tidak mengirim siapa-siapa. Cukup di-handle Syahrir Lantoni. Saingan Jawa Pos waktu itu, Harian Surya, mengutus Tasman Banto dan Alfred Lande untuk membantu Sudirman yang memang sudah ngepos di Kendari. Mereka membagi tugas. Alfred menempel ke Mendagri, Tasman membantu liputan pelantikan, dan Sudirman mengurus berita serta mengatur pengiriman foto. Maklum untuk mengirim foto harus cari orang yang mau ke Surabaya untuk dititipi rol film itu.
Melihat pasukan Harian Surya, sebagai saingan, saya seperti merasa dikeroyok. Apalagi belum ada koran grup Jawa Pos di Kendari. Tapi aku tenang saja. Toh hasil liputan yang menentukan. Benar adanya. Saya dapat wawancara Mendagri, dapat liputan pelantikan plus fotonya, dan ada wawancara khusus dengan Gubernur La Ode Kaimuddin. Wawancara saya lakukan di rumah Kaimuddin, sesaat sebelum dia menuju ke malam pisah sambut. Artinya sampai malam saya masih mengejar apa yang bisa saya lakukan.
Surya sendiri hanya liputan pelantikan, sambutan Mendagri, serta wawancara warga dan pengamat. Foto mereka sukses terkirim juga, sama dengan saya ketika saya mengejar Alala sampai ke Bandara. Liputan surya dimuat dihalaman depan ditambah halaman Indonesia Timur-nya. Jawa Pos semua di halaman Indonesia Timur, hampir 1 halaman. Faktanya saya menang ‘melawan’ tiga orang.

07 Juli 2007

Masa-Masa Awal di Jurnalistik

Hari-hari pertama di Harian FAJAR cukup menyenangkan. Saya tak menyangka bisa diterima oleh harian yang berada di bawah nama besar Jawa Pos itu. Pagi mengejar sumber berita, sore pulang, menulis berita, dan menyetor ke redaktur. Begitu tiap hari. Aidir Amin Daud, wakil pemi pin redaksi, diam-diam terus mengamati potensi dan hasil kerja saya. Tiga bulan masa percobaan saya lalui dengan baik. Melihat saya cukup bisa diandalkan, saya dipatenkan sebagai reporter. Tiga bulan berikutnya, saya dijajal lagi untuk pekerjaan editing. Hasilnya saya diminta jadi ‘penjaga gawang’ salah rubrik mingguan.


GAMBAR KETIKA MEMBAWAKAN ORASI ILMIAH DI KAMPUS STAIN KENDARI, DALAM RANGKAIAN PELUNCURAN MEDIA MAHASISWA STAIN KENDARI.

Dari rubrik mingguan saya dipercaya menjagagawangi halaman internasional. Tidak terlalu sulit mendapatkan beritanya, karena link berita cukup tersedia dari Jawa Pos. Tinggal pilih dan mengambil yang dibutuhkan. Namun ketika perang Teluk meletus, halaman internasional menjadi pertarungan. Saya pun harus mengikuti perkembangan detik per detik perang di Teluk Parsia itu. Bersyukur, fasilitas dengan parabola dan jaringan internet sudah tersedia di kantor. Sesekali saya menulis tentang perang di Timur Tengah itu.
Menjaga rubrik internasional memaksa saya juga harus tahu banyak perkembangan politik belahan dunia lainnya. Tulisan mengenai kisah hidup dan asmara Winnie Mandela, istri Nelson Mandela, pun pernah saya ulas habis. Dunia internasional cukup kaya dengan beragam informasi. Yang menarik perhatian saya adalah dinamika dan perkembangan bangsa Turki. Negara yang berpenduduk mayoritas muslim itu begitu cepat menerapkan sekularisme. Peran Kemal Attaturk tak bisa dikesampingkan dalam perubahan mendasar di negara itu.
Tak lama di rubrik ini, saya dipindah menangani berita-berita Indonesia Timur. Tak masalah karena saya juga cenderung beriorientasi ke sana, terutama di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sebelum dapat tugas di Sultra, saya sempat ditunjuk ikut meliput PT Semen Tonasa yang akan Go Publik. Bersama petinggi Semen Tonasa, saya kembali menginjakkan kaki di Jakarta. Sebelumnya saya sudah sering ke Jakarta semasa aktif di HMI. Tapi kali ini beda, yaitu melakukan tugas jurnalistik di luar Sulawesi.


BERSAMA SUDIRMAN, WARTAWAN SURYA DI KENDARI SAAT BERPOSE DI ATAS KRI SURA, SALAH SATU KAPAL PERANG JENIS PATROLI YANG DIMILIKI RI.

Tahun 1991 aku minta izin cuti kawin di Sulawesi Tenggara. Tanggal 14 Juli itu sangat bersejarah dalam hidup saya. Wanita yang terpilih mendampingi hidup saya adalah adik kelas semasa di kampus. Dia juga junior saya di HMI. Namanya Kasmawati Kasim Marewa. Dia junior tapi dia jusru lebih dulu selasai kuliahnya. Saya terhambat karena larut dalam aktivitas di HMI. Satu foto perkawinan saya tampilkan di sini.



Saya tertarik pada suatu kampung yang terkenal dengan nama Tosiba. Tosiba adalah singkatan dari Tondong, Sinjai dan Balangnipa. Tondong adalah sebuah kawasan di Sulawesi Selatan. Begitu juga Sinjai dan Balangnipa. Mengapa nama daerah di Sulsel itu ada di Sultra? Ternyata kampung Tosiba memang diisi para pendatang dari Sulsel. Merekalah yang merambah kawasan itu dari hutan menjadi sebuah kampung yang meraih predikat kampung terbaik di Sultra.
Para pendatang dari Sulsel itu ibaratnya hidup dengan cara nomaden. Di hutan Kolaka itulah baru mereka memantapkan diri untuk menetap. Sayangnya banyak di antara mereka yang gugur karena diterkam binatang buas. Ada yang cacat, bahkan ada pula yang tidak tahan dan lari menyelamatkan diri ke ibu kota Kabupaten Kolaka. Mereka hidup di hutan. Liputan saya cukup mendapat apresiasi, beberakali saya sambung dengan tema yang berbeda-beda.
Tiga hari di sana barulah saya pulang ke Kendari. Sayang, baru semalam, saya sudah dapat kabar duka. Ayah saya meninggal di Makassar. Saya terpukul karena benar-benar kehilangan orang yang saya kagumi. Semangat hidup saya runtuh. Saya balik ke Makassar seolah tak akan ke mana-mana lagi. Pekerjaan saya hanya dari rumah ke kantor, begitu tiap hari. Saya pun rasanya sudah malas pulang ke Kendari. Padahal istri saya terus menunggu di sana.
Ah, saya tidak boleh larut. Aku harus kuat. Dan baliklah aku ke Ibu kota Sultra itu. Hari terus berlalu. Untuk menghilangkan perasaan sepi, aku dan istri membuka usaha pengetikan komputer. Itu tahun 1991. Itulah satu-satunya usaha pengetikan komputer yang ada di Kendari. Banyak yang datang mengetikkan skripsi, makalah, paper, bahkan hampir semua pengacara datang mengetikkan replik dan dupliknya ke saya. Saya mulai bergairah kembali, sampai tahun berganti.
Suatu hari di saat sedang di rumah, tiba-tiba aku mendapat telepon dari Redaksi Jawa Pos Surabaya. Yang menelepon namanya Mahiyuddin Lakawa. Dia mengaku sebagai KL (kordinator liputan) di Jawa Pos. Senang karena inilah pertama kali saya berhubungan dengan Jawa Pos, koran yang waktu itu sudah menjadi yang terbesar di Jawa Timur.


BERFOTO BERSAMA DENGAN PARA WARTAWAN JAWA POS INDONESIA TIMUR. SEBELUM KRISIS TIAP TAHUN Jawa Pos MENGADAKAN PERTEMUAN REGIONAL SESAMA WARTAWAN YANG BERTUGAS DI INDONESIA TIMUR. DUA KALI DILAKUKAN DI BALI. SAYA KEDUA DARI KANAN

Tidak banyak yang kami bicarakan, tapi intinya bahwa Harian FAJAR telah merekomendasikan saya menjadi koresponden Jawa Pos di Kendari. Ada tiga nama yang direkomendasikan, yaitu Asmadi, Farid Ma’ruf, dan saya. Ketiganya adalah orang FAJAR juga. Namun yang dipilih adalah saya. Aku terima. Mulai saat itulah saya resmi menjadi koresponden Jawa Pos di Kendari.

Kuliah, Balap, dan HMI

DUNIA MAHASISWA
Masa-masa mahasiswa adalah masa yang menyenangkan. Meski merupakan masa transisi dari remaja ke dewasa, ada tiga tema utama di dunia ini. Yaitu pesta, buku, dan cinta. Tidak banyak juga yang bisa menikmati masa-masa menyenangkan di bangku mahasiswa. Mereka yang bekerja sambil kuliah sangat terproteksi waktunya. Yang dikejar adalah bagaimana lulus cepat, dapat titel untuk mendukung pekerjaan, dan tentu saja status sosial.
Saya termasuk yang tidak seperti itu. Dunia mahasiswa saya nikmati betul. Mulai dari perpeloncoan hingga tamat. Di masa pelonco, saya termasuk bandel. Ikut semua kegiatan, tapi satu hari bolos. Bukan karena apa. Beberapa minggu sebelumnya saya sudah daftar ikut grasstrack, sebuah arena balapan resmi yang diselenggarakan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan. Waktu itu IMI Sulsel dipimpin Halim Kalla (adiknya JK). Nah, hari H-nya balapan adalah di saat saya masih pelonco. Aku bolos.
Di arena grasstrack, saya sungguh tidak beruntung. Dari 20 peserta start, kelas bebek tune up 125 cc, saya hanya finis di urutan 10. Itu karena start pertama juga tidak bagus. Yang menyalip saya terjatuh pas di depan motor saya. Saya terhambat belasan detik. Oh, ya, saya memakai nomor 444 (bukan 46 seperti milik Valentino Rossi) dengan motor Suzuki bebek warna cokelat. Foto-foto saat balapan aku perlihatkan di sini.
Tak hanya tidak beruntung. Saya juga mengalami kecelakaan hebat. Saat tim pulang bareng, saya justru pulang sendiri dengan mengendarai motor Vespa PX 2000 milik ponakan. Di jalan tol, saya mencoba melampaui sebuah mobil boks, namun dari depan mucul mobil sedan yang juga melaju kencang. Braak!! Saya sudah di rumah sakit. Melihat motor yang hancur berantakan, pikiran orang pengemudinya pasti meninggal. Alhamdulillah saya hanya rawat jalan.
Sembuh, hari pertama kuliah saya lalui dengan senang. Lupakan balapan, lupakan kecelakan. Saatnya fokus pada kuliah. Maklum mahasiswa baru. Apalagi kampus saya adalah perguruan tinggi Islam swasta terbesar di Indonesia Timur. Saya memilih fakultas ekonomi dan mengambil jurusan manajemen perusahaan. Dari masa perkenalan di perpeloncoan saya sudah menonjol. Dalam waktu cepat saya sudah gaul dengan sejumlah kakak senior. Itu pula yang membuat saya terlibat dalam pengelolaan acara malam inougurasi mahasiswa baru Fakultas Ekonomi UMI Makassar.






Setahun kuliah, saya pun memberanikan diri masuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya tertarik karena para senior yang banyak membimbing saya pintar-pintar dan cerdas. Mereka ternyata digembleng di di HMI. Tahun 1984 saya training dasar HMI. Kami digodok, ditempa, dan dilatih menjadi mahasiswa yang kritis, intelektual. Tak lupa didoktrin berdasarkan nilai dasar perjuangan HMI.
Salah satu yang saya ingat ketika itu adalah, di saat training meledak peristiwa Tanjung Priok. Di dalam ruang training kami seperti dihasut untuk membenci militerisme. Korban di Tanjung Priok umumnya adalah berasal dari Makassar. Maklum di Tanjung Priok Jakarta itu dihuni banyak pendatang dari Bugis Makassar. Saya terpancing, dan mengajak yang lain turun ke jalan.
Dari Basic Training HMI, aku merasakan ada efek positif dalam diri saya. Aku pun mulai enjoy ber-HMI. Mulai dari menyelenggarakan training HMI angkatan berikutnya. Selanjutnya saya aktif di berbagai program HMI, hingga menjadi pengurus komisariat. Tak hanya itu, saya lalu nenjadi pengurus Korkom UMI. Lanjut lagi hingga pengurus cabang.
Tahun 1996 asas tunggal pancasila mulai diperdebatkan. Di HMI Makassar terjadi dua friksi. Yang menolak dan yang menerima. Pengurus cabang yang sah sangat menolak asas tunggal. Ketua cabang waktu itu Yasin Ardhi (kini di Partai Bulan Bintang) adalah penentang keras asas tunggal pancasila.
Saya dan rekan-rekan dari UMI, sebagian dari IAIN dan IKIP berdiri di pihak yang setuju. Terjadi friksi yang kencang. Yang menerima asas tunggal cukup kuat dari segi pengaruh dan massa. Tak heran kalau kemudian terjadi konferensi istimewa HMI cabang Makassar. Menariknya, saya adalah ketua panitianya. Acara itu membonceng dari kegiatan intermediate training yang diselenggarakan oleh Korkom UMI. Saya ketua panitia training dan didaulat menjadi ketua panitia konferensi istimewa.
Hasil konferensi istimewa dibawa ke Jakarta, ke PB HMI. Ketua Umum PB HMI Harry Azhar Aziz (kini jadi anggota DPR RI) dengan enteng mensahkan hasil konferensi istimewa. Harry A Azis harus teken, sebab kalau tidak HMI akan dibekukan oleh pemerintah. Kongres HMI di Padang cukup alot karena kubu penolak asas tunggal juga makin kuat. Mereka dibantu Tamzil Linrung, Eggy Sudjana, Zulvan Lindan, dll. MS Kaban pun kabarnya termasuk yang menolak asas tunggal waktu itu. Jakarta yang dimotori Bursah Zarnubi masih wait and see. Di Kongres XVI Padang itulah asas tunggal pancasila gol menjadi dasar/azas HMI.
Pulang dari Padang, Makassar masih tegang. Pengurus HMI Makassar hasil konferensi istimewa boleh dikata tidak diperkenankan masuk sekretariat HMI cabang. Itu karena sekretariat dikuasai Yasin Ardhi cs. Akibatnya pengurus hasil konferensi harus menjadi sekretariat berjalan. Itu berlangsung hampir setahun. Sesudahnya, dilakukanlah konferensi bersama. Terpilih jadi ketua Andi Pangerang Muntha. Saya masuk sebagai ketua III bidang kemahasiswaan.
Konferensi berikutnya Aziz Kahar Muzakkar terpilih, kemudian berikutnya saya mencoba maju sebagai kandidat. Sayangnya saya kalah 20-an suara dari idham Halid. Musda Badko Indonesia Timur lalu menjadi perhatian saya. Sayangnya bukan pula saya yang terpilih tapi Gusti Firmansyah. Cuma yang disahkan oleh PB HMI adalah Toni Hamzah. Saya hanya jadi Bendahara umum, namun saya mundur. Banyak pertimbangan saya mundur, selain saya harus fokus menyelesaikan kuliah.
Di HMI saya sudah mengecap masa-masa keemasan. Jenjang training yang tertinggi yang saya ikuti adalah Pusdiklat (semacam Lemhanasnya HMI). Saat Pusdiklat saya satu tempat dengan Yahya Zaini (kini di Golkar). Pada saat Saloka Pengkaderan saya juga satu tim dengan Yahya Zaini yang waktu itu sebagai ketua umum HMI Cabang Surabaya. Ketua umum PB HMI dipegang Ir Saleh Halid. Halid mengalahkan Abidinsyah Siregar dalam Kongres XVI Padang.
Sambil kuliah dan aktif di HMI saya sebenarnya telah pula mengembangkan diri di bidang tulis menulis. Beberapakali tulisan saya dimuat di koran lokal seperti di Pedoman Rakyat, Harian FAJAR, kemudian pernah pula menulis di Majalah Mahasiswa UII Jogyakarta, dan Majalah Jakarta-Jakarta. Ketekunanku menulis mengubah cita-cita saya untuk menjadi wartawan profesional. Ini juga karena kekaguman saya terhadap para jurnalis di Majalah Tempo. Mereka menulis sangat apik, liputannya sangat mengagumkan. Saya harus menjadi seperti mereka.
Tamat, saya akhirnya melamar menjadi wartawan di Harian FAJAR. Modalnya Cuma kumpulan kliping tulisan di berbagai media plus sertifikat HMI. Saya diterima Aidir Amin Daud, waktu itu wakil pemimpin redaksi Harian FAJAR. Di dalamnya sudah bergabung Hazairin Sitepu (kini direktur radar Bandung dan Radar Bogor, juga Ketua Dewan Pengawas TVRI). Ada pula Sukriansyah S. Latif (kini Direktur umum PT Fajar Group), dan Waspada Santing, Ir Suwardi Tahir, dan lain-lain.