05 April 2008

Politik Kutu Loncat

PROVINSI Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki dinamika politik yang tinggi. Keputusan pemerintah selalu lahir dari pertimbangan politik. Penempatan pejabat birokrasi sering muncul karena keputusan politik, apalagi etnis di dua wilayah besar (kepulauan dan daratan) yang ada selalu ingin menguasai singgasana kekuasaan di sana.
Tak heran kalau Sultra dikenal dengan suhu politik yang tinggi. Politik di sini adalah kekuasaan. Orientasinya kedudukan, jabatan, posisi dan semacamnya. Sayang sekali orientasi ini sudah memasuki wilayah primordialisme. Berbagai cara dilakukan untuk menggapai semua itu, termasuk pindah-pindah partai. Ini biasanya disebut kutu loncat.
Seorang pejabat dari Golkar dengan gampang pindah ke partai lain hanya karena ingin merebut kekuasaan. Contoh Yusran Silondae, dari Wakil Ketua Golkar pindah menjadi Ketua PPP Sultra. Mashur Masie Abunawas dari Ketua Golkar Kendari keluar dari partai hanya karena ingin menjadi calon gubernur. Di kalangan anak muda juga gampang menjadi kutu loncat. Contoh Arsyad Abdullah, dari PPP loncat ke Golkar.


DARI GOLKAR: Baliho Calon wakil gubernur Sultra Yusran Silondae berdiri kokoh di Kendari. Yusran mencalonkan diri pada Pilgub Sultra 2008-2013 berpasangan dengan calon gubernur Mahmud Hamundu yang diusung PDIP dan PPP namun gagal. Nur Alam dari PAN yang terpilih.

Beberapa tahun lalu, saya juga menulis soal politik kutu loncat ini di Kendari Ekspres. Tulisan itu dimuat tahun 2004 lalu sebelum pemilu legislatif digelar. Inilah tulisan itu:

Ibarat Kutu Loncat

BUKAN main perpolitikan di Sulawesi Tenggara. Dari jauh saya ikut tercengang. Begitu banyak calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), begitu tegang dalam penyusunan nomor urut caleg. Begitu banyak kutu loncat yang begitu gampangnya menyeberang dari satu partai ke partai lain. Penyusunan nomor urut di Partai Golkar juga luar biasa menggelikannya.
Entah bagaimana, politisi busuk pun banyak yang memenuhi daftar DCT Partai Golkar ini. Meski bukan nomor jadi, melainkan nomor sepatu, fenomena politisi busuk di partai kuning ini benar-benar luar biasa. Saya ketemu beberapa di antaranya sedang kasak kusuk mengurus dirinya di Jakarta. Mereka adalah yang terkena sorotan tajam dalam pemilihan Gubernur Sultra 2002 lalu. Yang terdengar mereka ingin mendongkrak urutannya ke nomor jadi. Sudah tradisi, gagal di daerah harus bermain di pusat.
Tapi jangan buta juga soal calon senator alias DPD Sultra. Beberapa nama sangat asing sekali. La Ode Ida, bolehlah. Cukup lama ia malang malintang dalam pergulatan pemikiran politik tanah air. Ia lebih dikenal sebagai pengamat, karena mungkin kapasitasnya sebagai kolumnis di beberapa media. Tapi ketika ia lalu mencalonkan diri menjadi calon anggota DPD Sultra, dedengkot LSM ini pun kena sorotan.
Latar belakangnya mulai dikorek. Rupanya, seperti tradisi juga. Gagal di pusat, ia pun balik kucing ke daerah asalnya, Sultra. Kemarin, Ida gagal bersaing menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Pengamat dan tokoh LSM ini banting stir mencalonkan diri menjadi senatornya Sultra untuk duduk di Senayan nanti. Apa tujuannya? Bisa jadi wilayah politik praktis inilah yang ingin dicicipinya, setelah sekian lama hanya bergelut di dunia wacana. Untung sekali tak mengalami kasus seperti Baramuli dan Beddu Amang di Sulsel.
Ir Arsyad Abdullah, tokoh LSM lokal yang keluar dari PPP setempat, apalagi. Dari partai yang loncat ke gelanggang politik perseorangan sudah mempetakan obsesi Arsyad. Suasana yang tidak kondusif di parpol sangat membuka peluang Arsyad untuk hengkang. Meski begitu, putra asal Bima ini jangan dikira bisa mulus berjalan. Track record-nya di LSM perlu juga dicermati.
Saya terkesan dengan La Ode Hasar SE. Karib saya semasa mahasiswa di UMI Makassar ini rupanya latah pula mau menjadi senatornya Sultra. Hasar serupa tapi tak sama dengan Ida. Bedanya, Ida pengamat politik dan tokoh LSM Jakarta, sedangkan Hasar boleh dikata baru kali ini mau memasuki wilayah politik. Sebelumnya ia malang melintang di Jakarta dari satu bisnis ke bisnis lain. Masuk ke Sultra pun membawa bendera konsultan-kontraktor. Sayangnya, Hasar pun lolos dari cengkraman seperti kasus Baramuli dan Beddu Amang di Sulsel. Apa kabar KPU dan Panwaslu Sultra?
Ida, Arsyad dan Hasar, barangkali adalah satu dari sekian fenomena baru perpolitikan di Sultra. Mereka adalah bagian dari kelompok muda yang mencoba menikmati legitnya kursi legislatif, apalagi di Senayan. Kelompok tua yang jumlahnya lumayan, mau menjadi senator juga adalah fenomena. Yokoyama Sinapoi dan Pariama Mbio, contohnya.
Bariun, Noldi dan Sutan Harahap apalagi. Politisi yang banyak disorot tatkala Ali Mazi terpilih jadi Gubernur Sultra ini cukup memiriskan perpolitikan di wilayah ini. Sayangnya kita tak bisa mengatakan “tau diri dong”.. Dilematis memang. Benar, menjadi anggota legislatif punya magnet tersendiri. Di singgah sana DPRD semua bisa dirancang. Bisa mengusulkan hearing, bisa putuskan anggaran, bisa ada studi tur, bisa pula secara tiba-tiba menggertak konsultan-kontraktor yang bermasalah.
Semua itu bisa dilakukan anggota dewan di atas fasilitas yang wah. Tak heran kalau semuanya, termasuk politisi busuk, ingin kembali bertarung meski pun sudah di tempatkan di nomor sepatu. Alamak!

02 Maret 2008

Tak Pernah Melupakan Sultra


INGAT SULTRA: Kesibukan kerja di Jakarta nyaris tak punya waktu ke Sultra. Padahal kerinduan pada kehidupan di sana sering-sering muncul di benak. Dengan sesekali menulis, kerinduan bisa terobati.

DUA tahun setelah pindah ke Jakarta, rasanya ada yang selalu membayang. Saya sangat sulit melupakan kehidupan saya dulu di sana. Kalau agak rindu lagi, biasanya aku menulis apa saja di Kendari Ekspres. Tujuannya agar teman-teman tidak melupakan saya juga.
Suatu hari saya teringat pada Bapak Buhari Matta, Bupati Kolaka yang sangat bersahaja itu. Dulu, pada awal-awal beliau jadi Ketua Bappeda Kota Kendari, kami satu tim. Dia Ketua Harian Persatuan Sepakbola Kendari (PSK) dan saya sekretaris bersama Pak Mujahid. Mengelola tim sepakbola memang berat. Dia banyak mengeluarkan uang pribadi untuk suksesnya sepakbola.
Bersama Pak Buhari, kami pernah memenangi kompetisi Divisi II PSSI lokal Sultra. Suporter Persimuna selaku tuan rumah berbuat onar. Tim dan official terkepung oleh para suporter ini di tengah lapangan. Kami baru dievakuasi aparat Kodim dan Polres Muna jelang tengah malam. Saya melihat Pak Buhari begitu tenang. Dia legawa begitu diminta segera pulang ke Kendari untuk menghindari aksi anarkis.
Dia memang banyak berkorban untuk sepakbola Kendari. Ketika kami mendatangkan PSM Makassar untuk uji coba, jutaan uang pribadi dikeluarkannya. Saya saksikan bagaimana duit itu diambil dari dalam kamarnya guna membayar biaya hotel tim PSM. "Ini pengabdian dik Acil. Ini juga untuk menjaga kehormatan kita sebagai tuan rumah," begitu katanya sambil membawa uang Rp 5 juta.
Ketika dia gagal jadi walikota Kendari, dia pun cukup tenang dan sabar. Dalam beberapa kesempatan jalan berdua, pernah timbul ungkapan dia untuk berwiraswasta. Tapi lama kelamaan terlupakan seiring naiknya dia sebagai Plt Bupati Kolaka. Berikutnya, setelah dipilih jadi bupati yang definitif, saya masih sempat ketemu sekali dengannya di Jakarta.
Mengingat dia, inilah salah satu tulisan saya tentang Kolaka yang dimuat di Kendari Ekspres tahun 2003 lalu:

Sejuknya Kolaka

BELAKANGAN ini Buhari Matta dan Kabupaten Kolaka mendapat porsi besar dalam pemberitaan media massa. Maklum saja, putra Bugis asal Soppeng ini baru saja terpilih sebagai Bupati Kolaka yang definitif. Saya sendiri tak membayangkan bagaimana ia menang meyakinkan di Kolaka, padahal kita tahu Buhari tak begitu sukses dalam setiap suksesi.
Buktinya, dua kali dicalonkan di Unaaha gagal. Begitu pula di Kota Kendari, sangat menyakitkan. Ia hanya beda 1 suara dengan Masyhur Masie Abunawas dalam pemilihan walikota 2 tahun lalu. Paling banter, jabatan definitif yang didudukinya hanya setingkat kepala dinas atau ketua Bappeda. Itu di Unaaha dan di Kota Kendari. Sesudahnya itu ia berpindah-pindah, sampai akhirnya di Kolaka sebagai pejabat sementara alias pelaksana harian bupati.
Bisa jadi sukses di Kolaka karena daerah itu sudah 'dipegangnya'. Bayangkan, Golkar yang begitu dominan di DPRD setempat sampai-sampai tak punya calon. Padahal, untuk urusan politik sudah Golkar-lah jagonya. Hal sama juga dalam suksesi Gubernur Sultra tahun lalu. Golkar harus memilih Ali Mazi.
Saya pun tak membayangkan bisa bertemu kembali dengan Buhari Matta. Tapi kemarin di Jakarta bersua lagi, di saat ia begitu sibuk bolak balik ke Depdagri. Terakhir saya bertemu satu setengah tahun lalu. Saat itu kami duduk bersama sebagai pembicara dalam sebuah lokakarya tentang pers dan dunia akademik. Lokakarya itu dilaksanakan Fakultas Ekonomi Unhalu Program Ekstensi. Di situlah saya baru tau betapa njlimet pemikiran pembangunannya.
Selama ini kami hanya banyak diskusi soal-soal sepak bola. Dulu pernah sama-sama mengurus Persatuan Sepakbola Kendari (PSK). Dia ketua harian, saya wakil sekretaris. Tak pernah sekali pun mendiskusikan soal-soal berat pembangunan Sulawesi Tenggara. Apalagi soal Kabupaten Kolaka.
Tapi, di Jakarta saya kaget. Di saat Kabupaten Kolaka masih panas-panasnya soal suksesi bupati, Buhari Matta malah merasakan betapa sejuknya Kolaka. Bukan karena ia terpilih sebagai bupati definitif, melainkan Buhari mampu mendayung dan menyelami karang-karang politik secara dingin di daerah tajir tersebut. "Saya merasakan Kolaka itu sejuk. Hanya di permukaan saja yang panas," katanya.
Benarkah Kolaka panas tapi di mata Buhari sungguh adem? Satu situasi dan dua makna terjadi di sini. Siapa pun tahu Kolaka merupakan wilayah yang hampir menyamai multikulturnya Kota Kendari. Di sana pun politik laksana panglima. Adel Berty yang sudah 2 periode 'menikmati' Kolaka saja masih tergiur. Tak tanggung-tanggung ia pun berusaha menjegal Buhari. Buhari tidak melawan, tidak pula diam.
Orang dekatnya, sebaliknya, yang pusing. Kok tak ada restu dari Buhari untuk melawan. Bukankah ia punya kekuatan dan tim? Itulah Buhari. Tak pernah mau reseh oleh panasnya bara politik. Pikirannya yang saya tangkap, seolah ada stigma bahwa semua persoalan akan selalu kembali ke sumbunya. Jika disulut, meledaklah ia. Buhari, agaknya, sukses menahan sumbu itu agar tidak meledak. Yang terjadi hanya kesejukan, seperti yang dirasakannya. Tabik!

03 Februari 2008

Kasus Hercules Menyita Perhatian (2-Habis)

SEPERTI apakah tulisan Deri Ahirianto sehingga Hercules dan kawan-kawannya itu bisa seperti itu terhadap Indo.Pos? Faktanya, ada miskomunikasi wartawan dengan Hercules. Wartawan mengaku mewawancarai Hercules, namun Herculesnya menyatakan tidak pernah. Kalau pun ngomong dengan Deri, menurut Hercules, itu bukan untuk wawancara.
Dilihat dari foto di tulisan itu, benar Deri ada di sekitar Hercules. Saat itu Hercules menghadiri acara Forkabi. Hercules duduk di depan, dan saat itulah Deri mengambil gambarnya. Foto Hercules itu dimuat dalam tulisan. Deri memang sempat ngomong-ngomong dengan tokoh pemuda dari Timor Timur itu. Sayangnya terjadi kesalahpahaman tadi.
Itulah yang ikut membuat Hercules marah, ditambah lagi tulisan itu sedikit mengusik eksistensi dirinya di Tanah Abang. Hercules menurut ulasan Deri tidak lagi berkuasa di kawasan pasar grosir terbesar tersebut. Hercules disebut seolah terusir dari sana setelah beberapa ormas pemuda lokal didirikan. Di sini Hercules marah lantaran dirinya seolah disamakan dengan kelompok preman. Dia tidak mau disebut demikian.
"Siapa yang preman. Saya bukan preman, saya malah melindungi masyarakat dan banyak membantu masyarakat. Memberikan sumbangan kepada masyarakat," kata Hercules berapi-api saat di ruang redaksi Indo.Pos. Dia malah memperlihatkan surat penunjukkan dirinya dari Tim Sukses SBY untuk membantu pemenangan SBYpada pilpres 2004. Apa yang diakui Hercules ada benarnya. Sisi humanis dan sosial Hercules cukup tinggi. Dia tak henti menggalang bantuan sosial bagi korban bencana. Tsunami di Aceh, gempa dan tsunami di Jogja dan Pangandaran buktinya. Dia bahkan mengajak Indo.Pos ikut meliput bakti sosialnya. Jauh sebelum itu, dia pun banyak terlibat dalam aksi-aksi sosial di Tanah Abang. Tidak heran kalau Hercules menjadi dewan pembina Forkabi.
Di kawasan Pasar Tanah Abang, apalagi. Dia memang cukup dikenal. Tapi sejak sudah tujuh tahun lamanya Hercules meninggalkan kawasan tersebut. Itulah sebabnya, ketika Hercules dikait-kaitkan lagi di sana, dia marah bukan kepalang. Deri sebenarnya menulis apa adanya. Juga pernyataan Hercules yang sudah 7 tahun meninggalkan Tenabang.


LENGANG: Suasana salah satu sudut ruang redaksi Indo.Pos setelah ditinggalkan awaknya usai naik cetak dan pasca kejadian.

Dalam tulisan, Deri juga menyebut Hercules kini lebih santun. Itu pula yang ikut memicu kemarahan. Seolah-olah sang pemuda itu hidupnya galak, tidak berperikemanusiaan dan semacamnya. Itu dibantah keras. Namun, Deri punya alasan karena dalam tulisannya itu juga menyebut Hercules telah banyak mendekatkan diri pada Tuhan. Apalagi dia sudah masuk Islam. Sayangnya, keterangan ini tidak didapat dari Hercules, tapi ungkapan dari orang dekat Hercules. Begitulah, akhirnya Indo.Pos secara jujur mengakui ada misunderstanding dalam wawancara itu. Indo.Pos memuat klarifikasinya yang, dengan itu, menjadi jalan masuk untuk melakukan perdamaian. Dan itu dimungkinkan oleh UU. Kami sebenarnya menuntut pelaksanaan UU Pers, namun kepolisian justru memproses Hercules dan kawan-kawan berdasarkan KUHP.
Tapi bagaimana pun, kejadian dengan Hercules cukup menyita banyak perhatian. Teman-teman dari daerah banyak bertanya. Saya katakan, itulah risiko sebuah kebebasan pers. Sesuatu yang diperjuangkan, namun tak sedikit menjadi bumerang.