03 Mei 2008

UMROH BERSAMA ASSURYANIYAH 2007 (2)

Tahun 2007 lalu, saya diberi kesempatan ikut ibadah umroh bersama jamaah Assuryaniyah. Situasi dan suasana beribadah di Arab Saudi harus saya laporkan agar keluarga jamaah di tanah air bisa mengikuti perkembangannya di Arab Saudi. Berikut seri kedua laporan saya yang telah dimuat di Indo.Pos pada pertengahan April 2007.

Perbanyak Ziarah Dulu, Baru Masuk Inti Umroh

ADA delapan kelompok jamaah umroh yang diberangkatkan PT Assuryaniyah. Delapan kelompok ini dibagi dua keloter, masing-masing berangkat pada 15 dan 16 April 2007. Menurut Dirut PT Assuryaniyah, HM Sami, semua calon jamaah umroh yang terdaftar sudah siap terbang, termasuk saya. Tidak ada yang berhalangan. “Tinggal berangkat," katanya.

BERSAMA KELUARGA: Sebagian dari jamaah umroh Assuryaniyah menerima penjelasan dari pemandu tentang tatacara beribadah di Tanah Suci nanti.

Para jamaah memang sudah sangat siap. Itu tergambar pada manasik 1 April lalu di Asrama Haji Pondeok Gede Jakarta Timur. Manasik adalah latihan yang dilaksanakan di tanah air. Tapi bagaimanakah situasinya nanti di Arab Saudi? Sama saja seperti tahun sebelumnya. Yang pasti akan padat karena travel lain juga hadir di sana bersama jamaahnya. Akan ramai dan tampaknya akan bergelombang.
Tahun lalu, pada pemberangkatan awal, prosesi ibadah dimulai dari Mekkah untuk selanjutnya Madinah dan balik ke Indonesia. Namun kali ini diawali dari Jeddah, Madinah, dan Mekkah. Itu artinya inti ibadah umroh, yakni tawaf, sai, dan tahallul berada di akhir-akhir perjalanan.
Ada yang mengatakan dengan rute seperti ini jamaah akan kelelahan lebih dulu sebelum memasuki inti ibadah. Namun pendapat lain mengatakan, dengan ziarah di banyak tempat di Madinah seakan menjadi ‘pemanasan’ sebelum tawaf, sai, dan tahallul. Jadi sama saja sebenarnya dengan rute yang diawali dari Mekkah.
Memang, tiga hari pertama akan dihabiskan di Madinah. Di sana jamaah memperbanyak ibadah, ziarah, sholat wajib-sunnah di Masjid Nabawi. Ziarah ke Majid Quba, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, dan melintasi Masjid Tujuh (Khandak), dan terakhir di kebun kurma, sebelum bertolak ke Mekkah.
Saat berangkat ke Mekkah inilah inti umroh sebenarnya sudah dimulai. Dari shalat dhuhur dan ashar (jama’) lalu ganti pakaian dengan mengenakan pakaian ihram. Dalam perjalanan ke Mekkah jamaah akan singgah dulu di Bier Ali (letaknya 12 km selepas Madinah) untuk mengambil miqot. Banyak pula baru di Bier Ali yang mengganti pakaian ihramnya. Makanya miqot disebut pula tempat mengambil berniat umroh dengan mengganti pakaian ihram.
Selain di Bier Ali, masih ada tempat untuk mengambil miqot, yaitu di Ji’ronah. Perjalanan Madinah-Mekkah boleh dikata cukup melelahkan. Di antara itu, jamaah singgah shalat magrib dan isya di perjalanan. Sesuai jadwal, tiba di Mekkah pada jam 11 malam. Masuk hotel dulu, baru ke Masjidil Haram untuk tawaf, sai, dan tahallul.
Umroh belum berakhir di sini. Sebenarnya masih ada umroh sunat yang dimulai dari miqot di Masjid Ji’ronah. Lalu memperbanyak ibadah dengan shalat wajib dan sunat di Masjidil Haram. Jika ingin ziarah, masih ada kesempatan mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Nur, Arafah, Jabal Rahmah, Mina, Muzdalifah, dan sebagainya. Jangan lupa ke Pasar Seng, pasar tradisionil yang terletak di dekat Masjidil Haram.
Menurut jadwal, jamaah Assuryaniyah juga akan melakukan tawaf wada di Masjidil Haram. Ibadah ini dilakukan sebagai penutup tawaf di depan Kakbah sebelum bertolak pulang ke tanah air dengan kembali ke Jeddah lagi. Di Madinah ada acara bebas, siapa tahu masih mau beli oleh-oleh. (bersambung)

25 April 2008

UMROH BERSAMA ASSURYANIYAH 2007 (1)

Bulan April adalah musim umroh. Mulai awal bulan itu, gelombang umroh terus beterbangan menuju Jeddah, Madinah, dan Mekah di tanah Arab. Tahun lalu saya mendapat kesempatan melaksanakan ibadah umroh bersama Biro Perjalanan Haji dan Umroh PT Assuryaniyah. Dari Indo.Pos saya tidak sendiri, tapi ditemani Akbar Muslim, staf iklan Indo.Pos. Saya dan Akbar berangkat 15 April 2007 bersama 300 jamaah Assuryaniyah yang terbagi beberapa kelompok terbang lainnya. Banyak cerita dan pengalaman spiritual yang saya tulis di sana, bahkan sepekan sebelum terbang saya sudah membuat laporannya. Inilah catatan perjalan itu yang dimuat bersambung tiap hari di Indo.Pos.

Berangkat Siap, Posko Siap, dan Semua Siap

Tak kurang dari 300-an jamaah umroh yang diberangkatan travel PT Assuryaniyah sudah siap terbang. Senin dan Selasa depan, mereka terbang dengan Garuda 980 dan GIA 981. Dari manasik 1 April lalu tergambar semua jamaah yang terdaftar sudah siap bertolak ke Arab Saudi. Di tanah haram itu, para jamaah akan memenuhi panggilan Ilahi Rabbi. Tawaf, sai, dan tahallul adalah inti dari ibadah umroh.
Bagaimana persiapannya? Mulai kemarin, sudah banyak calon jamaah yang mengadakan syukuran. Syukuran dilakukan di rumah masing-masing. Ada beberapa agak beda cara syukurannya. Cukup mengundang tetangga, kerabat, imam dan ustad di lingkungan untuk baca doa. Juga ada yang membagikan seserahan kepada tetangga sebagai rasa syukur.


MANTAP: Pemandu dari Assuryaniyah, H Nabil membacakan pengumuman dalam acara penjelasan tata cara beribadah umroh di aula Assrama Haji Pondok Gede. Nabil didampingi Ginanjar dan Derry, dan Akbar Muslim.

Tapi apa pun, berkesempatan beribadah umroh adalah hal terpenting dalam diri setiap muslim. Ada kesempatan, ada kemampuan, ya berangkat. Seperti yang ditunjukkan 300-an peserta jamaah Assuryaniyah ini.
Dari daftar peserta, rata-rata berangkat bersama keluarga. Misalnya dengan anak, saudara. Ada pula pemenang hadiah umroh dari Telkomsel. Selebihnya adalah perorangan dan grup seperti komedian Empat Sekawan, yakni Ginanjar, Eman, Dery, dan H Komar.
Mengapa tidak bersama istri? Ginanjar dengan tersipu mengatakan masih jomblo. “Gimana mau bawa istri, semua sudah diborong H Komar,” katanya berkelakar. Dery pun mengatakan berangkat sendiri untuk gabung dengan Ginanjar, Eman, dan Komar.
“Dulu berangkat bersama. Sekarang berangkat bersama lagi, ya untuk reuni,” kata Derry yang juga presenter di berbagai stasiun televisi ini.
Empat Sekawan juga menjadi ikon program umroh Assuryaniyah. Travel haji dan umroh lain pun sebenarnya berlomba memberikan pelayanan jasa yang terbaik dengan menonjolkan figuritas. PT Assuryaniyah, pada April ini merayakan usianya ke-34 tahun, sehingga Empat Sekawan menjadi penting dalam program umroh reguler-nya kali ini.
Seperti tahun lalu, perusahaan yang didirikan Hj Suryani Tahir ini merayakan HUT-nya yang ke-34 di Mekkah, di tengah-tengah pelaksanaan ibadah umroh. Dalam jadwal, tempat pelaksanaan tasyakuran belum ditentukan, namun lokasinya pasti tak akan jauh-jauh dari Masjidil Haram.
Jauh sebelum berangkat, perusahaan travel ini sudah menyiapkan orangnya di Jeddah, Madinah, dan Mekkah. Di sana ada H Zahir, H Hamdy, H Kosasih, dan H Lutfi. Semua siap melayani para jamaah Assuryaniyah. Satu yang tidak terlupakan adalah kebutuhan informasi bagi keluarga jamaah yang di tanah air.
Melalui Indo.Pos, keluarga di Indonesia bisa mengikuti perkembangan selama kerabatnya beribadah di Tanah suci. (bersambung)

20 April 2008

YANG 'WADUH' DARI SENAYAN

Politik didefenisikan sebagai seni merangkai apa yang memungkinkan, the art in the possible. Tapi di Indonesia, dalam praktiknya, politik sudah menjadi tujuan. Tak hanya yang possible, tapi yang impossible juga diupayakan menjadi kenyataan. Tidak hanya musuh, kawan pun bisa jadi lawan. Dan itu sering dipertontonkan wakil takyat di DPR.
Dua tahun lalu anggota DPR dari Fraksi PDIP terlibat cekcok di fraksinya. Kejadian itu mengundang perhatian wartawan. Besoknya, menjadi berita hangat dari Senayan. Saya pun memandang kejadian itu perlu menjadi objek tulisan saya di Indo.Pos. Saya pun menulisnya begini:

PDIP dan Simbol Perjuangan

Tingkah laku memuakkan kembali diperagakan sejumlah anggota DPR RI, Jumat (17/3). Dua anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) nyaris adu jotos. Entah apa, Murdaya Poo dan Irmadi Lubis hampir berantam di ruang rapat fraksi mereka. Rupanya perbedaan pendapat bagi mereka bisa identik dengan perkelahian.
Masih teringat ketika sejumlah anggota dewan bertindak tidak etis saat rapat parpurna DPR membahas kenaikan harga BBM. Effendy Simbolon Aria Bima, dan lainnya menggebrak meja pimpinan sidang. Effendy Simbolon dan Aria Bima juga berasal dari FPDIP. Sayang sekali, contoh itu menular ke Murdaya Poo dan Irmadi Lubis. Tidak sepakat langsung main keras.
Sebelumnya juga anggota FPDIP Jacobus Camarlo Mayong Padang dan Panda Nababan sempat tegang. Itu jauh sebelum yang terjadi di ruang rapat fraksi Jumat lalu. Di Banten, Marissa Haque dan Jayengrana saling teror ketika istri Ikang Fauzi itu ‘masuk’ ke Banten menjajaki kemungkinan ikut bursa calon gubernur dari PDIP.
Ketegangan-ketegangan dari elite-elite PDIP ini sesungguhnya masih lumrah. Di partai politik, polemik dan ketegangan selalu menghiasi perjalanannya. PDIP apalagi. Partai ini secara historis sangat kuat di tingkat akar rumput. Partai ini diibaratkan sebagai simbol perjuangan. Masuk PDIP berarti harus rela dicap sebagai pejuang untuk wong cilik.
Masalahnya, tidak semua berjalan secara bagus. PDIP sendiri sering berhadapan dengan tembok besar ketika harus memperjuangkan aspirasi wong cilik. Sebelum keluar, mereka harus adu debat dulu. Syukur-syukur tidak terjadi ketegangan seperti yang pernah terjadi.
Nah, ketegangan antara Murdaya Poo dan Irmadi Lubis sebenarnya adalah pertentangan kecil dari sebuah keinginan untuk memperjuangkan wong cilik. Soalnya, pertentangan itu adalah bagian dari polemik besar, yakni masalah Blok Cepu, TDL, dan Freeport. Keduanya punya argumen berbeda dalam menyikapi angket Blok Cepu dan sikap terhadap Freeport.
Murdaya yang berangkat dari latarbelakang pengusaha, melihat dari sisi bisnisnya. Sepertinya, suami dari Siti Hartati Murdaya ini menganggap jika blok Cepu dikelola ExxonMobil lebih menguntungkan Pertamina dari sisi bisnis. Ini kontras dengan pikiran Irmadi Lubis yang melihat dari sisi politisnya saja. Dua kutub yang memang kadang tidak bisa didamaikan.
Pendekatan bisnis terhadap polemik Blok Cepu, oke. Hitung-hitungannya ada. Murdaya Poo mungkin sudah tahu efeknya bagi Pertamina dan pemerintah. Pendeknya, bisnis selalu melihat dari untung ruginya. Sebaliknya, politik melihat dari kalah atau menangnya. Irmadi melihat pemerintah melalui Pertamina kalah, seperti halnya pendangan para elite politik dan teknokrat.
Kalau pada kelanjutannya keduanya ngotot, itulah masalahnya. Dua kutub pikiran yang sulit dipertemukan. Sayangnya, ketegangan terjadi karena keduanya mengabaikan satu hal: yakni keinginan partai. Padahal, seperti disebutkan tadi, bahwa partai –dalam hal ini PDIP– adalah simbol perjuangan. Semua harus berjuang ke satu titik.
Masih ingat ketika Sekretaris FPDIP DPR Jacobus Camarlo Mayong Padang mogok makan di DPR ketika rapat paripurna memutuskan soal kenaikan harga BBM? Politisi dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), itu ‘mengunci’ mulutnya karena gagal menahan laju kenaikan harga BBM. Dia sakit, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Itukah simbol perjuangan dari PDIP? Rasanya tidak juga. Sebab, tak semua bertingkah seperti Cobu, atau Murdaya Poo atau Irmadi. Juga tak seperti Effendy Simbolon dan Aria Bima atau Panda Nababan. Itu hanya bagian dari sekian cara untuk menuju ke satu titik. Berkelahi, adu jotos, gebrak meja atau mogok makan memang salah satu cara untuk menjustifikasi sebuah perjuangan.
Tapi masalahnya, semua cara tidak semua pula bisa efektif. PDIP sendiri selalu gagal ketika harus betarung di DPR RI. Hak angket untuk kenaikan harga BBM gagal, hak angket untuk impor beras juga gagal, akhirnya bikin tim sendiri. Dukungan ke Ryamizard Ryacudu juga patah, penolakan terhadap Freeport bisa jadi gagal juga, termasuk Blok Cepu.
Lalu apa yang bisa mendorong PDIP sukses di legislatif? Dari jumlah kursi di dewan, PDIP sedikit di bawah Golkar – kongsinya dalam koaliasi kebangsaan. Golkar tambah kuat lantaran PD, PBB, dan PKS menjadi sumbu-sumbu mereka. Praktis, PDIP jalan sendiri, kecuali giat ‘menggarap’ fraksi lain yang dalam hal lain sejalan pikiran dan langkah.
Sayangnya, di internal PDIP sendiri sulit satu suara. Jacobus Camarlo Mayong Padang versus Panda Nababan, Murdaya Poo v Irmadi, dan sikap reaktif sejumlah anggotanya terhadap kebijakan pemerintah, adalah salah satu contohnya. Simbol perjuangan partai lebih pada individu-individu, lebih partial, jauh dari kolektivitas.