09 Juli 2007

Bupati Usir Wisatawan, Usir Wartawan

JOB pertama di Jawa Pos adalah meliput kasus pengusiran wisatawan asing di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Saat itu Kabupaten penghasil kayu jati terbesar di Indonesia Timur itu dipimpin Drs Maola Daud (kini almarhum). Maola Daud termasuk pemimpin yang berhasil. Namun entah apa, ketika wisatawan asing berkunjung ke wilayahnya tiba-tiba diusir. Istilah kami waktu itu adalah pengusiran.
Pada Maret tahun 1992 itu, media massa yang memberitakan pertama hanya Jawa Pos. Sebenarnya ada koran lokal yang belakangan ikut memberitakan, yaitu Mingguan Nusantara Pos dan bulanan Media Kita. Koran yang berskala nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan lainnya luput. Belakangan setelah kasusnya berbuntut baru ramai.
Memang berita itu berbuntut. Maola Daud, sang bupati , merasa tak mengusir wisawatan. Aku tenang saja karena sumber berita saya adalah orang profesional di dunia pariwisata dan kebudayaan Muna, yaitu Siddo Thamrin. Tapi Siddo Thamrin adalah pihak yang sedikit berseberangan dengan Maola. Begitu Maola tahu sumbernya adalah Siddo Thamrin mencak-mencaklah dia.
Bupati yang putra daerah itu berang. Aku dengar dia marah dan mencari saya. Tapi saya berusaha bagaimana memahami psikologisnya dengan mencoba bertemu dia. Maka ditemani La Paa, jurnalis dari Pelita, saya mendatangi rumah kediaman Maola di Kendari. Saat itu keluarga Maola sedang menyiapkan sebuah pesta. Aku masuk mencoba menjelaskan, tapi saya berdua malah diusir. Tersiar kabar bupati usir wartawan.
Belakangan kasusnya berbuntut. Tak hanya mengusir wartawan, Maola juga dikabarkan mencari-cari saya dan La Paa. Ternyata benar. Istri La Paa didatangi orang-orang Maola, diancam dan rumahnya akan dibakar jika tak mendatangkan dua orang ini ke hadapan bupati. Wartawan di Kendari panik. Jangan-jangan terjadi tindak kekerasan pejabat terhadap jurnalis. Para wartawan kemudian berkumpul yang difasilitasi Yamin Indas, wartawan Kompas di Kendari. Sebelumnya saya dan La Paa minta pengamanan pada aparat kepolisian dan TNI.
Itulah pengalaman pertama sejak di Jawa Pos Kendari. Kasus Maola ini baru selesai ketika semua menahan diri. Rupanya pula Maola tak bermaksud menakut-nakuti wartawan. Dia hanya minta orang-orangnya memanggil saya dan La Paa untuk konfirmasi. Sayangnya cara yang dilakukan luar biasa sangar. Begitulah, dan akhirnya saya sulit melupakan yang namanya La Paa.




FOTO DIATAS DIPOTRET SAAT SANTAI SEJENAK KETIKA MELIPUT DI KOLAKA


Suksesi dan Persaingan Liputan
SETELAH kasus pengusiran wisatawan, Sultra memasuki masa-masa awal pemilihan Gubernur. Gubernur Ir H Alala (almarhum) sudah dua periode sehingga harus diganti. Penggantinya, banyak yang mau. Alala ingin penggantinya adalah kroninya, seperti Andi Pangerang Umar, Soleh Solahuddin, dan lain-lainnya yang memungkinkan. Tapi sayangnya TNI punya calon lain. Pangdam VII Wirabuana Zainal Basri Palaguna menginginkan figur dari militer, atau sipil yang berpikiran militer. Jatuhnya lari ke La ode Kaimuddin.
Pertarungan dimulai. Alala dan Pangdam VII tidak satu kata. Wartawan yang untung karena ada sumber berita-berita yang bernuansa konflik. Jurnalisme konflik sangat disukai warga. Golkar pusat turun tangan dengan mengutus Oetoyo Usman. Ketua Golkar Sultra Madjid Joenoes (almarhum) berkeras dan tak mau mengalah pada Oetoeyo Usman. Memang dalam pemilihan kepala daerah ada tiga piliar yang harus sepakat. Yakni apa yang disebut ABG, yaitu ABRI, Birokrat, dan Golkar.
ABRI dan Golkar Pusat kelihatannya minta agar La Ode Kaimuddin yang jadi, sementara Birokrat yang dipegang Alala menolak, begitu pula Madjied Joenoes selaku kroni Alala. Tak hanya itu mayoritas rakyat Sultra juga menolak kroni Alala, siapa pun. Yang mereka mau adalah Kaimuddin. Penolakan oleh Alala disambut gelombang demo. Konflik, perseteruan terus berlangsung hingga September-Oktober. Gelombang massa tak terkendali, namun Alala bertahan. Pers saat itu juga kelihatannya cenderung berpihak ke ABRI, bukan Kaimuddin. Pertarungan berakhir ketika Kaimuddin dilantik jadi gubernur oleh Mendagri yang dijabat Rudini.


REDAKTUR DAN KORESPONDEN Jawa Pos DALAM PERTEMUAN DI BALI. SAYA DUDUK PALING KIRI BERSAMA ARIF AFFANDY (KINI WAKIL WALIKOTA SURABAYA), MAHIYUDDIN LAKAWA, DAN ASMADI.

Heboh suksesi di Sultra sampai ke level nasional. Maka pelantikan La Ode Kaimuddin menjadi riuh dan banyak media nasional mengirimkan wartawannya ke Kendari. Jawa Pos tidak mengirim siapa-siapa. Cukup di-handle Syahrir Lantoni. Saingan Jawa Pos waktu itu, Harian Surya, mengutus Tasman Banto dan Alfred Lande untuk membantu Sudirman yang memang sudah ngepos di Kendari. Mereka membagi tugas. Alfred menempel ke Mendagri, Tasman membantu liputan pelantikan, dan Sudirman mengurus berita serta mengatur pengiriman foto. Maklum untuk mengirim foto harus cari orang yang mau ke Surabaya untuk dititipi rol film itu.
Melihat pasukan Harian Surya, sebagai saingan, saya seperti merasa dikeroyok. Apalagi belum ada koran grup Jawa Pos di Kendari. Tapi aku tenang saja. Toh hasil liputan yang menentukan. Benar adanya. Saya dapat wawancara Mendagri, dapat liputan pelantikan plus fotonya, dan ada wawancara khusus dengan Gubernur La Ode Kaimuddin. Wawancara saya lakukan di rumah Kaimuddin, sesaat sebelum dia menuju ke malam pisah sambut. Artinya sampai malam saya masih mengejar apa yang bisa saya lakukan.
Surya sendiri hanya liputan pelantikan, sambutan Mendagri, serta wawancara warga dan pengamat. Foto mereka sukses terkirim juga, sama dengan saya ketika saya mengejar Alala sampai ke Bandara. Liputan surya dimuat dihalaman depan ditambah halaman Indonesia Timur-nya. Jawa Pos semua di halaman Indonesia Timur, hampir 1 halaman. Faktanya saya menang ‘melawan’ tiga orang.